Minggu, 14 September 2014

Tuhan

Pada suatu hari saya naik bus dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Di samping saya duduk seorang bule yang agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: “Hai mike!” Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Kemudian ia bertanya: “Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya?”

Saya tahu konsekuensi jawabanya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama yaitu “Tuhan tidak berkuasa”. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau ateis, pikir saya.

Ia bertanya dan tidak perlu jawaban. Untuk tidak memberi jawaban panjang kepadanya, saya melontarkan pertanyaan balik, “Could you tell me what do you mean by God?” Benar saja, sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.

Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini pernah diajukan Peter Abelard. Dia sendiri bingung menjawabnya. Pertanyaan bule tadi itu mungkin hasil adopsi dari Peter. Tapi, yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.

Di Barat, diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari ‘tsawabit’ (permanen) tapi ‘mutaghayyirat (berubah). Layaknya wacana ‘furu’ dalam Fiqih. Ijtihad tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua.

Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog-pun kewalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog kemudian digeser oleh doktrin “Sola Scriptura”. Kitab suci bisa dipahami tanpa otoritas teolog.

Sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan. Hadits nabi SAW, “ (Idza wussida al-amru ila ghayri ahlihi fan tadzir alsa’ah,” (Jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah waktu kehancurannya) terbukti. Katholik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal dan al-sa’ah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan ‘modern atheism’.

Apa kata Michael Buckley dalam ‘At The Origin of Modern Atheism’ meneguhkan sabda Nabi SAW. Ateisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis. Pemikir-pemikir yang ia juluki “Para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis” seperti Lessius, Mersenne, Descartes, Malebranche, Newton dan Clarke, itu justru melupakan realitas Yesus Kristus.

Dalam hal ini Newton tidak mau disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya. Descartes hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog. Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya.

Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe. Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible.

Akan tetapi, malangnya, kritik terhadap Bible (Biblical Criticism) bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan ateisme modern. Alasanya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakikat Tuhan dan tentang kebenaran eksistensi Tuhan itu sendiri. Hasil akhirnya adalah ateisme. Bukan hanya biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap. Inilah masalah teologi.

Ateisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire, bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton, problematik karena itu ia ditolak sains.

Bahkan bagi Hegel, Tuhan Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bagi Feuerbach, Karl Marx, Charles Darwin, Sigmund Freud, jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuh-Nya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.

Belakangan, Sartre (1905-1980) seorang filosof eksistensialis, mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. “Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini ia diam”. Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber (1878-1965) seorang teolog yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filasafat hanya bermain dengan ‘image’ dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.

Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan pikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan “nasib” Tuhan di Barat memalui bukunya yang berjudul “Eclipse of God”. Saat Blaise Pascal (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, di balik jaketnya ditemukan tulisan “Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.” Kesimpulan yang sangat cerdas. Inilah masalah bagi para filosof itu.

Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang “maju” tanpa teks (kitab suci, tanpa otoritas teolog, last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik. Tuhan, kata Diderot, tidak bisa menjadi pengalaman subyektif. Meskipun bisa, bagi Kant (1724-1804) juga tidak bisa menjadikan Tuhan “ada”. Berpikir dan Beriman pada Tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu dibaptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.

Muridnya, Herman Cohen pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekedar ide,” katanya. Tuhan hanya tampak dalam bentuk mitos yang tidak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang,”Kalau saya mencintai Tuhan, maka saya tidak memikirkan-Nya lagi.” Hatinya ke kanan pikirannya ke kiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.

Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern, Francis Bacon (1561-1626) menggambarkan mindset manusia Barat begini: ‘Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason’. Maknanya, teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan. 

Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang “Menempuh ketiadaan yang tanpa batas”.

Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah dengan gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu dan wacana intelektual yang ‘wagu’. Seperti santri sarungan tapi kepalanya bertopi cowboy Alaska yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur westerntaiment.

Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya ‘tanzil’. Bagi seorang pluralis ini jelas ‘supremacy claim’. Tapi faktanya ‘Kalam’ dan ‘falsafah’ tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim dan filosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan al-Qur’an dan Hadits cukup untuk membangun peradaban.

Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan dan teks al-Qur’an tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato maupun literal Aristotle pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juag tidak terjadi. Justru kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).

Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat. Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangung dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan, itu berarti mencampur yang al-haq dengan yang al-batil alias sunt bona mixtra malis.


-Bab I buku Misykat, Karya DR. Hamid Fahmy Zarkasyi-


3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Hhaa.. Eksis lagi.. Sepertinya lama sekali bertapa senior ini, untuk menghasilkan tulisan kece badai ini.. hhe. Mampir-mampirlah juga kemari senior http://husnaright.blogspot.com/2014/05/kemana-wajah-tuhanmu-menghadap.html :)

    BalasHapus