Sabtu, 12 Desember 2015

Risalah kemelowan

Oke, yang akan aku nyinyirkan kali ini ternyata ialah yaitu merupakan bahwa bermaksud yakni, sebuah perkara yang sangat sensitif. Sehingga aku akan berusaha untuk sangat berhati-hati dan menjaga setiap kata per-kata serta kalimat demi kalimat dengan teliti, santun serta halus berbudi. Ya, maksudku santun dalam versiku sendiri ya… *hohoho

Mari.

Saban hari yang lalu aku tertarik memperhatikan secara seksama dalam tempo yang selama-lamanya perilaku para perjaka dan perawan, baik yang telah beranak maupun yang belum, baik yang masih hijau maupun yang kira-kira “sudah dekat” waktunya untuk bertemu dengan Tuhan. Kutarik beberapa kesamaan dari mereka, dan kudapatkan fakta yang mencengangkan! Bahwa, ternyata memang hampir semuanya memiliki jempol kaki!!, eh, maksudku ‘kemelowan’! yakni bermakna bahwa ada nilai “melow” di dalam diri mereka. Wow!.

Kemelowan tiap individu ini dipengaruhi oleh variabel waktu dan tempat atau objek yang berbeda-beda. Ada yang kambuh melownya dikala malam datang, ketika azan shubuh, ketika di kuburan, atau sewaktu jagain parkiran. Bahkan barangkali ada yang kambuh ketika kesurupan. Intinya, setiap orang akan terinfeksi dengan waktu dan cara yg berbeda-beda. Ini tentu merupakan sebuah fakta yang menegangkan sekaligus menakjubkanmu, iya kan?.

Setelah merenung dalam malam-malam yang panjang dan dingin, dalam kesendirian menatap langit nan berbintang, dalam lamunan menahan-nahan rindu-gurindam-gurame. Maka, aku berijtihad, bahwa, kemelowan adalah perilaku jiwa yang lazim dan normal, dimana posisi “perasaan” berada pada level kesensitifan yang sangat tinggi. Yang berefek kepada perubahan perilaku yang tak wajar, seperti perilaku jiwa yang tiba-tiba menjadi halus, kata-kata yang menjadi syahdu-meriang, dan perilaku fisik yang mulai sedikit “gemulai” dan “melambai”. (eh?).

Manusia yang terjangkiti bakteri kemelowan ini akan menjadi sangat perasa dan mudah berpuitik dalam kata. Ia akan sering ingin menyendirikan diri sendiri. Pun tiba-tiba ia menjadi akan sangat mudah tersentuh jika melihat laut, langit, awan, bunga, bintang dan rembulannya, atau dengan irama dan syair yang lembut-merayu-sendu.

Jika dilihat dari segi “kondisi” maka secara kurang ajar dan biar kelihatan ilmiah aku membagi penyebab kemelowan menjadi dua. Sekali lagi; menjadi dua!. Ku-ulangi sekali lagi, bahwa aku membagi penyebab kemelowan menjadi dua. Dengan baik hati kuulangi sekali lagi, bahwa aku membagi penyebab kemelowan ”menjadi dua!.” Apa perlu kuulangi sekali lagi? keliatannya nggak perlu…hehee.

Yang pertama ialah kemelowan yang terjadi ketika si-korban dalam kondisi Jatuh Cinta, dan yang kedua ialah ketika korban dalam kondisi Patah Hati. Memang sangat kontras, tetapi di kedua kondisi inilah kesensitifan hati begitu peka dan halus, setidaknya beginilah kesimpulan dari hasil renungan melamun tidak bermutuku itu. 

Di kedua kondisi inilah korban juga terjangkiti perasaan “merasa” memiliki kemampuan untuk melahirkan puisi atau syair yang mendayu-dayu layaknya pujangga-pujangga besar. Bahkan mereka merasa pantas diri dan besar kepala untuk disejajarkan bahu dengan Rumi, Hamka, Shakespear, Gibran atawa Iqbal. Kurang ajar memang, tapi jangan terlalu kau ambil hati, nanti mereka akan sadar sendiri bahwa mereka sedang “sakit”.
Oke, mari kita intip beberapa indikasi perilaku seseorang yang telah terjangkiti kemelowan ini.

Untuk Jenis yang pertama (kondisi Jatuh Cinta), diantaranya yaitu; ia akan sangat mudah tersenyum dan tertawa-tawa sendiri, meskipun terkadang ia sedang menonton pilem horor atau sedang berada dirumah duka!...aiihh2

Dalam melamun pun ia hobi tersenyum-senyum bego sendiri. Tak lupa, gelisah-gelisah rindu juga menyerang jenis ini tanpa ampun. Benar-benar tanpa ampun. Jenis ini juga tiba-tiba menjadi manusia yang pemaaf dan penyabar, sangat senang berbagi membantu, sangat riang-bersemangat, seolah-olah cuma dia manusia yang dianggap Tuhan masuk surga. Atau kurang lebih begitulah.

Tipe pertama ini doyan nempel dan sok memahami buku-buku seperti, Taman Orang yang Jatuh Cintanya Ibnu Qayyim, Cinta dan Syahwatnya Ibnul Jauzi, Tauqul Hamaamahnya Ibnu Hazm, tulisannya Ustad Fauzil Adhim, Serial Cinta-nya Anis Matta, novel-novelnya Habiburraman el Shirazy, Syair-syairnya Iqbal atau Rumi, dan lain lain. Bahkan ia merasa bisa mengimbangi penulis-penulis diatas. Sekali lagi, jangan diambil hati atas kekurang-ajarannya, sindrom “merasa pujangga” akibat bakteri Melow ini memang menginjak-injak kewarasan korbannya.

Kukutipkan kau contoh syair yang disenangi jenis pertama ini;.

Sesungguhnya
Bila saja ia berkunjung tiba-tiba
Kurela meski cuma dapatkan isyarat mata
Sua denganmu, cukup sehari sekali
Tak ingin lebih, yang penting rindu ini terobati
Pasukan-pasukan cinta telah mengepung pendengaranku
Ia yang baru kudengar sifatnya telah memenuhi benakku

(Tauqul Hamaamah,_Ibnu Hazm)

Semua burung yang terbang di langit mengidap iri
Lantaran kita tertawa-tawa riang sekali, kau dan aku.
(Rumi)

Hah, begitulah, kau lihat, bukan main memang lagaknya.

Sedangkan jenis yang kedua (kondisi Patah Hati) bercirikan; ia akan hobi bermuram muka-bersedih-sedih kata. Puisi dan syairnya bermakna putus asa dan kesedihan yang mendalam akibat kasihnya tak terjangkau mata, tak tergenggam tangan. Pedih berurai-urai airmata.

Ia akan begitu senang melihat langit sendirian, menelusuri laut sambil menebas-nebas pasir kering dengan kakinya, seolah-olah ada nama kekasihnya disitu. Kasihan benar. Coba kau perhatikan juga, sehabis shalat ia akan duduk agak lama dengan wajah tertunduk kebawah, bahkan ia kelihatan lebih khusyuk daripada Imam mesjid. Ia akan mencoba untuk mengiba-iba pada Tuhannya, bahkan bisa jadi ia akan menyodor-nyodorkan nazar sebagai bentuk negoisasi dengan Tuhan jika permintaannya dikabulkan. Ckck parah.

Jika hujan turun ia akan relakan dirinya basah kedinginan, ia menikmati kemelowannya, bahkan sangat menikmatinya. Aih, benar-benar aku tak tega mengisahkan penderitaan jenis yang kedua ini. Sungguh, kemelowan jenis ini telah memakan fisik dan jiwanya secara perlahan demi perlahan. Kasihan memang. Patutlah kau sumbangkan untuknya air mata. Sungguh mengharukan.

Apakah kau sedang menangis terharu karena membaca yang diatas? oh, nggak ya? Hehe.. yaudah mari kita lanjutkan.

Jenis kedua ini akan alergi dengan buku-buku yang romantis dan mengandung kemesraan. Namun ia akan sangat menghayati kisah-kisah seperti, Laila Majnun, Zainuddin dan Hayati di Tenggelamnya Kapal Vanderwijk, Siti Nurbaya dengan kasih tak sampainya Marah Rusli, atau kisah kesedihan Shah Jahan akibat meninggalnya sang istri, Arjumand Begumm Bann, sehingga terbangunlah Taj mahal di India, atau barangkali Sayap Patahnya Gibran. Kisah di pilem-pilem drama Jepang, Taiwan, Malaysia, Brunei dan sejenisnya juga disantap dengan sepenuh hati segenap jiwa-raga, serta tak lupa ia sedekahkan air matanya sebagai bentuk dan pertanda bahwa ia sangat paham apa yang dirasakan oleh pemeran utama di pilem-pilem tersebut. Ampun dah.

Nah, mari kukutipkan juga kau contoh syair dari ulama Andalusia yang senang diresapi dan diulang-ulang oleh jenis yang kedua ini;

Perpisahan datang setelah pertemuan
Keduanya datang bergantian
Malam pertemuan digantikan malam perpisahan
Sungguh, kepergianmu adalah kepedihan
Dan kebersamaan denganmu senantiasa kunantikan
Adakah sejumput asa untuk kebersamaan


Atau
Ketika nestapa melanda jiwa
Api membakar hati, airmata meleleh di pipi
Kala lara mendera hati, menyiksa jiwa
Perasaan mungkin bisa sembunyi
Tapi airmata kan mengalir lama

(Tauqul Hamaamah,_Ibnu Hazm)

Ehem, begitulah, kuharapkan kau mulai sedikit mengerti dan mengira-ngira diri sedang berada pada jenis yang mana. Ingin sebenarnya aku juga menuliskan level-level kemelowan yang harus kau perhatikan, sehingga kau bisa lebih berhati-hati. Namun kupikir tak usah saja, alasannya sederhana saja. Malas. *Hehee.

Menurutku kebahagiaan dan kesedihan itu tetap saja merupakan pemberian Allah untuk “perasaan” yang kita miliki, maka ketika kegembiraan datang, nikmatilah dengan baik, tak usah sungkan-sungkan untuk tertawa gembira. Begitupun ketika kesedihan datang, maka kau juga punya hak untuk menikmatinya. Bukankah mata itu juga punya hak untuk sejenak menangis, meski sebentar. Menangis sajalah meski dengan alasan yang sederhana. Tak usah kau risau-risau akan hal ini, manfaatkan dan kelolakan saja “rasa” kemelowan diatas sesuai dengan ajaran Nabi, tak lebih tak kurang. Sehingga semoga kita bisa menikmati tawa dan tangis kita,...=)

Sekian saja-lah Tuan-tuan dan Puan-puan.

“Hanya Allah dan Rasul saja yang tak akan mengecewakan kita”


Affif Herman bin Herman Hanif bin Hanifuddin Ali, 2009. 
*nulisnya marathon Kajhu-Darussalam-Meunasah Bak Trieng-Ie Mase-Lueng Bata-Batoh,..hehe*.

Kuliner Nusantara: Miras Oplosan!



Indonesia ini negara kaya raya. Begitu setidaknya pengetahuan umum yang telah dimaklumi oleh setiap orang yang pernah mengeyam pendidikan di tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Negara ini.

Minuman keras (miras) oplosan adalah satu bukti kekayaan Indonesia yang melimpah tadi, khususnya di bidang kuliner. Kalo orang bule punya berbagai jenis varian bir atau minuman haram yang bikin mabok, maka Indonesia juga punya.  Gak mau kalah. Kita punya minuman keras hasil olahan lokal, yang bahkan diracik dengan kadar hingga 90% alkohol di dalamnya. Bahkan konon air campurannya tak segan-segan menggunakan air dari bak WC dan comberan. Urusan higienies atau gak, itu gak penting. Yang paling utama adalah minuman ini bisa bikin teler dan harganya bisa dijangkau oleh sebagian rakyat jelata. Sangat merakyat, bukan? Yah, faktanya ini minuman memang sering dinikmati oleh orang yang, bukan saja miskin hartanya, tapi juga miskin akalnya. 

Minuman ini memang populer, apalagi media juga sering mengangkatnya dalam berita-berita terkini. Media sih biasanya sering menyebut minuman ini dengan nama gaul; MIRAS OPLOSAN. Namun, di lapangan nama yang disandang minuman ini bisa bermacam-macam. Ada yang manggilnya dengan Ciu, Cipas, bahkan Cheribell. Ini serius, memang begitu lah rakyat jelata kita memanggilnya. Beda tempat, beda nama. Kearifan lokal lah istilahnya.

Tentu saja aku gak tau cara meracik atau bagaimana rasa minuman ini. Namun yang jelas minuman ini begitu digemari oleh sebagian anak-anak bangsa yang akalnya agak miskin tadi. Yang membuat saya terkagum dengan minuman ini, bahwa minuman ini mampu membuat jasad dan nyawa peminumnya terpisah secara sempurna.  Maksud saya, minuman ini begitu berkhasiat dalam meMAMPUSkan penikmatnya. Ini sudah terbukti, lho. Bukan hoax semata. Bahwa telah begitu banyak korban yang berceceran setelah meneguk minuman sakti ini. Salut. Dan hal tersebut tidak membuat minuman ini ditinggalkan atau dibenci, malah makin digemari oleh manusia yang fakir-fakir akal tadi. Luar biasa salut! XD

Pernah saya mendengar dari kawan sekelas yang berkisah bahwa di daerahnya telah tewas sekitar 40-an orang akibat menegak miras oplosan. Yang 'is dead' bukan saja pemuda-pemuda tanggung akibat putus cinta, atau orang-orang tua yang kepalanya dipenuhi oleh banyaknya masalah-masalah hidup. Tapi yang jadi korban juga adalah anak-anak SD dan SMP, yang bolehlah kita bilang masih bau kencur dan juga kencingnya belum lurus. Selidik punya selidik ternyata mereka minum miras berjamaah di acara pesta kawinan. Trus setelah happy-happy minum itu minuman, tak lama, mereka ramai-ramai 'kembali' ke sisi-Nya. Tua dan muda Innalillah. Heuheuheu.

Yang menarik bagiku lagi, pernah kulihat program TV sejenis reportase investigasi begitu. Yang biasanya suara dan wajah pelaku di samarkan gitu. Disitu si pelaku dengan jujur membuka trik dan tips bagaimana kejahatannya di jalankan. Saat itu saya melirik ke TV sebentar saja, yakni ketika seorang ibu pejabat kalau nggak salah dari BPOM sedang memberikan penjelasan, bahwa miras oplosan itu dicampur dengan Baygon alias racun serangga! Saya tercenung. Syok dan kagum juga. Salut juga.

Ya, pemuda harapan bangsa di acara TV tadi rupanya memang sengaja menambahkan racun serangga bermerek Baygon itu kedalam miras racikannya! Entahlah buat apa, tapi konon katanya biar teler yang dihasilkan oleh miras oplosannya tambah MANTAP! Teler sampai ke kuburan! XD

Dari kawan sekelas (Bambang dan Mbak Risa) saya juga akhirnya mendapatkan informasi yang berharga dan gak rahasia. Ternyata miras oplosan dengan citarasa maut ini tak hanya bisa dicampur dengan Baygon semata, namun juga bisa dipadu-padankan dengan Insto (obat tetes mata), perwarna kain, Autan/Soffly (lotion anti nyamuk), Spiritus (bahan pembakar di industri, juga pengencer cat) dan Panadol (obat sakit kepala), dan lain-lain yang hanya Allah yang Maha Tahu. Subhanallah, cerdas sekali anak-anak bangsa yang meracik miras dengan tambahan bahan-bahan diatas. IQ nya pasti cemerlang. 

Gak tahu mau nulis gimana lagi saking kagumnya awak sama yang bikin dan minum itu minuman. Heuheuheu. Begitulah kira-kira, sedikit bayangan yang kuketahui mengenai miras oplosan yang sakti mandraguna tersebut. Minuman yang Wuuaar biasya, kan? Kan? Kan? :))



Affif Herman
Bandung, 2015

Kamis, 15 Oktober 2015

Menikah Lagi?

Dari salahsatu grup WhatsApp (WA), lebih tepatnya grupnya para ustad. Ini ustadnya beneran ya, bukan ustad seleb yang gak jelas. Jadi salah satu ustad penghuni alam WA itu men-share tulisan ringan ini, yang menurutku bagus. Kalo gak bagus mana mungkin bisa lolos masuk ke blog ini, coba? Ehem, hehehe. Oke langsung aja saya copas bulat-bulat ya, sebagai berikut:

Berikut adalah kiriman dari Prof. Dr. Muhammad Abdullah al-Wuhaibi, Guru Besar Akidah dan Perbandingan Mazhab di King Saud University. Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Suatu saat ada seorang pemuda bertanya kepada Syaikh Ibnu Utsaimin,"Saya sudah menikah dan ingin menikah lagi yang kedua kalinya dengan niat menjaga kehormatan wanita".

Syaikh menjawab,"Berikan saja hartamu kepada pemuda yang membutuhkan sehingga dia dapat menikahi wanita tersebut dan anda pun akan mendapatkan dua pahala, yaitu menjaga kehormatan wanita itu dan membantu pemuda tersebut." 


Nah, demikian. Semoga bermanfaat efribadi. Hehehe.

Bandung, 2 Muharram 1437 Hijriah-15 Oktober 2015

Selasa, 22 September 2015

Rokok yang Menggoda

Ngomongin masalah rokok emang (jika mau) akan memakan waktu yang banyak. Membahasnya akan bersinggungan dengan banyak aspek dan berbagai kepentingan. Sejarah, ekonomi, sosial, gaya hidup dan kesehatan, bahkan masalah moral bisa kita kaitkan dengan urusan hisab-menghisab ini.
 
Di balik banyaknya pengaruh negatif yang disebabkan oleh rokok, dan dibalik berbagai cara pembelaan oleh para pemilik bisnis ini, ada hal yang membuat saya pribadi sangat merasa prihatin. Yakni masalah anak-anak muda dan remaja yang sudah merokok sejak dini. Bahkan anak-anak yang masih menduduki Sekolah Dasar sudah mencoba-coba merokok meski masih dalam taraf main-main atau iseng. Wajar jika sampai timbul istilah "Indonesian's Smoking Generation" pada salah satu artikel yang pernah saya baca. Yang menggambarkan betapa memprihatinkannya perilaku merokok di kalangan kaum belia di Indonesia.

Saya yakin secara umum anak-anak muda/remaja kita yang baru mulai merokok setidaknya tahu bahaya rokok. Apalagi setiap bungkusan rokok memiliki sejenis peringatan efek dari perbuatan tersebut, bahkan disertai gambar-gambar horor. Namun jika kita perhatikan, gambar-gambar yang menakutkan di bungkusan tersebut seolah tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi para remaja kita. Mereka juga tidak peduli bahwa jumlah kematian akibat asap rokok bahkan melampui kematian akibat AIDS. Yang menyebabkan 3 juta kematian pertahun pada 1990-an. Bahkan menurut harian Kompas (31 Mei 1996) diperkirakan antara tahun 1995 hingga tahun 2000-an akan terdapat 15 juta kematian karena asap rokok. Belum lagi kita uraikan efek-efek mengerikan yang lain yang memicu penyakit seperti kanker pada saluran pernafasan, diabetes, jantung koroner, gangguan pada paru-paru dan lain-lain. Para remaja tetap saja tak berdaya dihadapan adiksi nikotin dan gencarnya mitos-mitos kehebatan rokok pada iklan-iklan di berbagai media.

Di sisi yang lain perusahaan-perusahaan rokok kok rasanya 'pede' saja membubuhi peringatan-peringatan (berserta gambar) dari efek merokok tersebut. Seolah memang tak akan menggangu bisnis mereka. Namun fakta di lapangan memang berbicara demikian, peminatnya malah bukannya berkurang, tetapi terus bertambah dari hari kehari. Persentase perokok baru, khususnya di negara-negara berkembang terus naik dan menjanjikan.

Perusahan-perusahaan rokok multinasional terlihat betul-betul sedang bersemangat menjadikan negara berkembang di Asia-Afrika, dan secara khusus Indonesia sebagai lahan baru dalam mengeruk keuntungan, mengingat laba yang mereka peroleh dari negara-negara Barat terus berkurang. Melihat Indonesia yang memiliki jumlah manusia yang melimpah, tentu potensial untuk menjadikannya sebagai masa depan bisnis mereka. Sehingga tak berlebihan jika para aktifis anti rokok sampai-sampai mengeluarkan statemen bahwa ekspansi perusahaan rokok saat ini sebagai Perang Candu abad 20.

Dunia periklanan industri rokok memang paling lihai dalam 'merayu' mangsanya agar selalu istiqamah atau memulai menghisap rokok. Pariwara rokok bertubi-tubi merayu dari berbagai arah dan tanpa mengenal waktu dan tempat. Iklan di televisi, radio, billboard-billboard raksasa di jalanan, event-event seni dan kebudayaan. Bahkan pada daerah-daerah yang terpencilpun industri ini menjajakan dagangannya dengan jumawa. Ah iya, saya hampir kelupaan menambahkan, bahkan pada event-event olahragapun iklan rokok menjadi rajanya sponsor. Sebuah ironi bukan?

Karena iklan adalah ujung tombak industri ini maka wajar mereka menghambur-hamburkan uangnya dalam dunia periklanan ini. Dr. Ronald Hutapea Ph.D di bukunya 'Why Rokok?' menyebutkan biaya yang digunakan untuk mempromosikan rokok di seluruh dunia (pada tahun 1993) mencapai 2,5 milyar dolar setara dengan sekitar 5 triliun rupiah dengan kurs saat itu. Jumlah itu cukup untuk memberi imunisasi lengkap pada bayi-bayi yang baru lahir di seluruh dunia untuk melawan penyakit yang masih menghantui seperti polio, difteri, tetanus, campak dan TBC. Dan ternyata hampir di semua negara biaya promosi rokok ini jauh lebih besar daripada dana pemerintah untuk kesehatan. Ironis.

Akhirnya iklan-iklan penjaja nikotin ini sukses besar membujuk perokok-perokok baru yang sebagian besar justru berusia masih muda dan sangat belia. Ditambah lemahnya regulasi masalah rokok ini di negara Indonesia membuat industri ini makin semangat "menipu" anak-anak muda dengan ilusi bahwa merokok adalah lambang kejantanan, kenikmatan, kebebasan, citra dan gengsi.

Semoga berbagai pihak, baik dari kalangan masyarakat, relawan/aktifis, sampai ke Legislatif dan Eksekutif di negara ini lebih menaruh perhatian serius dan saling bekerja sama dalam masalah ini. Jangan sampai terbentuk generasi muda yang lemah secara fisik, tak kritis, dan mudah tergoda oleh hal-hal yang justru merusak masa depan mereka sendiri. Ketegasan Pemerintah sangat kita harapkan, betul jika negara kita memerlukan devisa dan pajak, namun tentu tak bijak jika harus mengorbankan masa depan generasi muda kita. 

Sekian.

Bandung, 22 September 2015
Affif Herman

Senin, 21 September 2015

Ayah Ada Duit?



Malam ini aku dibuat kaget saja. Pas nelpon si pacar, eh,  ternyata yang angkat telponnya si anak gadisku tersayang. Aisyah Humairah. Si gadis periang nan smart. Si cerdik yang terkadang keras kepala. Yang sering berlindung dengan gelarnya sebagai "anak-anak" lalu semena-mena menguji seluas apakah kesabaran ayahnya. Anak gadisku semata wayang.

"Assalamu’alaikum?" 

“Wa’alaikumussalam” jawaban dari seberang, dari suaranya yang masih belepotan aku tahu ini si Aisyah. Siapa lagi.
“Siapa ini?!” Tanyaku ecek-eceknya gak kenal.
“Aisyah ni” 
“Ooo...Aisyaaaah!” Ecek-eceknya aku kaget dan surprise.
“Ayah ada duit?”
“Hah?!” Aku kaget.
“Ayah ada duit Aisyah bilang?”
“Hah? Apa?!” Aku masih agak kaget kenapa dia tiba-tiba nanya perihal duit gitu. Hahahaa.

“Ayaaaah...ada duit Aisyah bilaaaaang?!” Dijawabnya dengan agak menjerit dan bernada perintah agar aku mendengarnya dengan baik. Dia kira aku gak paham sama pertanyaannya.

“Ada, Nak. Kenapa?” kucoba untuk tenang.
“Ayah, beli buku Aisyah...”
“Ooooo... " 
Terus terang akunya jadi agak lega, kirain buat apa coba anak dibawah 3 tahun udah nanya-nanya duit. Rupanya minta dibeliin buku. Alhamdulillah. Hahaha, saya kira jaman telah begitu cepat berubah. Bukan hanya melek gadget, kukira tadi anak-anak sekarang juga udah begitu cepat mengenal yang namanya duit. Hehehe.
"Iya, boleh. Buku apa Ayah beli?” 
“Hm...buku...hmm...buku rumah sakit” Jawabnya.
“Hahaha...iya, nanti ayah cari buku rumah sakit, ya”
"ya..."

Lalu terdengar kresek-kresek. Saya panggil-panggil Aisyah berkali-kali namun tak ada jawaban lagi. Eh, rupanya kata Bundanya Hp langsung ditinggalin begitu saja setelah keperluannya selesai. Hahahaa.

#Hey, Aisyah, Ayah kangen.


Affif Herman, Bandung, 13 April 2015.

Bertepuk Sebelah Tangan

Heuheuheu, judul ini sebenarnya telah ada di folder "draft" buat di-isikan nanti ke blog sejak tahun 2010! Wow, umur yang cukup tua untuk sebuah draft yang gak dipromo-promo buat tampil ke blog. Namun baru sekarang saya mendapati keadaan diri memiliki, apa gitu, buat nyoret-nyoret barang sebiji dua biji kalimat lagi di lembaran microsoft word ini. Hehee, maklum, “iman” menulis lagi turun.


Judul ini sebenarnya usulan seorang kawan, di warkop lejen Solong, entah di hari apa. Maklum, lupa. Dalam rangka saat itu ngobrol gak jelas. Namanya juga ngopi, yah topiknya pun berubah-ubah, dari kondisi politik lokal sampe update terbaru chapter komik Onepiece dan Naruto. Dan ujung-ujungnya ya sampe ke gosip si fulan yang dirinya sedang di tolak si fulanah yang di dambanya. Lagi dan lagi. Dan ini kejadian berulang. Banyak lah alasan penolakan yang dia terima. Buat alasan apa susahnya, coba? 

Maka teman ngopiku ini iseng nyuruh bikin tulisan di blog tentang yang agak sedikit sentimentil macam sinetron Indonesia dengan seribu episodenya. Judulnya saat itu ya semacam Cinta bertepuk sebelah tangan dalam tinjauan syariat. Hehee, kira-kira begitulah judul ngawurnya. 

Namun tentu saja saya gak berhasil memahami, meresapi, membedah ada apa di balik kalimat sejenis “Cinta tak berbalas” tersebut. Tentu, mengartikan secara bahasa itu mudah. Yang tak mudah bagiku adalah bagaimana memahami perasaan orang yang sedang mengalami salahsatu cobaan terberat dalam dunia percintaan ini. Terutama dari kaum lelaki yang niatnya tulus. Bukan jenis lelaki murahan sejenis playboy gitu. Definisi kata “lelaki” dalam bahasan kita ini bukan lelaki kelas murahan ala playboy, ya. Yang merasa diri sebagai playboy jangan merasa sedang kita omongin. Jangan Ge-er lah istilahnya.

Namun dalam perjalanan hidup dari 2010 sampai 2015 saya mendapati kenyataan yang mungkin ada hubungannya dengan masalah ‘cinta tak berbalas’ ini. Bahwa pada lelaki-lelaki yang tulus itu ‘Cinta tak berbalas’ atau bertepuk sebelah tangan ini adalah juga hal yang sangat menyakitkan. Sangat menyiksa, bisa bikin badan kurus. Atau juga bisa bikin si korban menjadi sangat gemuk. Karena tipe orang dalam menghadapi tekanan hidup kan bisa bermacam-macam, ada yang jadi malas makan atau malah sebaliknya. Ada yang mengatasinya dengan jalan-jalan dan silaturrahim. Bahkan tak jarang ada juga yang malah jadi hobi minum baygon. Dan akhir-akhir ini hobi minum baygon menjadi agak populer di kalangan remaja-remaja alay se-nusantara.

Bahkan, terhadap lelaki yang kita anggap sebagai orang yang relijius dalam pandangan kita sebagai manusia. Atau mungkin yang aktif di lembaga-lembaga dakwah dan sejenisnya. Yang kita anggap biasanya mampu dalam menghadapi segala permasahan apapun. Namun, ya karena ini urusannya dengan perasaan, maka tetap saja ada yang nggak sanggup dan gagal berusaha untuk 'move on' ketika ditolak oleh sang pujaan. Yah, meski dia paham bahwa nikah adalah ibadah namun karena memang bawaannya sebagai lelaki yang sentimentil jadi ya gitu deh, dia-nya jadi melow terus. Mungkin yang begini inilah yang setipe dengan tokoh Sobari di Novel Ayahnya Andrea Hirata. Melankolis sejati.

Tak berbalasnya perasaan seseorang ini banyak faktor penyebabnya, bisa bermacam-macam modus yang melatarbelakanginya. Perlu survey yang masif, terstruktur dan mendalam. Agar di dapat data yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan di PBB atau lembaga HAM internasional. Tapi jika data valid gak diperoleh ya gak apa-apa. Kita bisa ngarang-ngarang aja disini. Mana tau ada yang percaya. XD

Nah, oke ya, segini aja dulu sebagai pembuka setelah sekitar hampir 5 tahun di folder laptop. Susah ini merampungnya, soalnya dulu saya masih bisa mewancarai korban kasus ini, tapi sekarang susah dilakukan karena perkara teknis ini itu (alasan). Apalagi konon sekarang beliau sudah sukses menikah. Mudah-mudahan lelaki yang rencananya jadi objek tulisan ini telah melupakan kenangan-kenangan perjuangan cintanya yang mengharukan tersebut. Hahaha. XD

Jika cinta bertepuk sebelah tangan, lepaskan tanganmu
Terbang dan kepakkan sayapmu selebar angkasa biru
Arungi luas alam bebas, hingga kau dapati tempat berteduh
Tuk tentukan arah, temukan cinta yang pernah hilang
(Kahlil Gibran. Lupa judulnya, heuheuheu) 


#Ada perasaan lega setelah memutuskan untuk mengorbitkan draft ini. Mengurangi rasa bersalah. XD

Bandung, 21 Sept 2015