Minggu, 29 Juli 2012

Bulan dibeli...


Pagi tadi, sehabis bawain Aisyah lihat-lihat bumi di pagi hari saya jumpainya bundanya. Rupanya bundanya lagi di dapur, nge-rehab pernak pernik perkakas yang kami gunain tadi sewaktu sahur. Saya kesitu dengan santai, karena gak perlu buru-buru. Saya bilang “Hai”, dia jawab “Hai” juga sambil senyum-senyum. Saya tanya, “Lagi ngapain kamu?” dia bilang, “Lagi nyuci piring”. Saya bilang,” Iya, saya udah tau, kan udah liat...hehe”. Dia senyum-senyum lagi. Hehe asyik.

 “Eh, kamu mau saya beliin apa lebaran ini?” saya bilang begitu sama dia. Dia bilang, “Hm...apa ya, gak ada sih...”. “Yeee...cak pikir-pikir dulu lah, ya...” Saya bilang begitu. Dia liat saya senyum-senyum juga. Seolah-olah dia mau bilang ke saya bahwa dia adalah pacar yang ramah. Eh, Aisyah tadi saya tinggalin di kamar, saya cuma kuatir kalo ada Aisyah disini nanti dia juga minta macam-macam buat lebaran. 

Jadinya gak bisa lama-lama ngobrol-ngobrol ini itu sama Bundanya Aisyah di dapur, Aisyah menanti soalnya. Pas setelah saya minta ijin mau balik kekamar nge-jenguk Aisyah saya bilang lagi,”...cak pikir-pikir dulu lah, ya...hehe”. Lalu kekasih saya itu sambil senyum-senyum dia bilang,”Mau dibeliin bulan...”

“Hahaha...oke! Siap graak!!” saya bilang semangat. Hehe, sekarang jadinya bingung mau beli bulan dimana, kan? Ah, di jualkah kamu bulan? Biar saya bisa beli kamu untuk saya kasih ke dia seorang. :))


 
 #Salam Ramadhan!


Affif, 9 Ramadhan
Lagi di Buminya Allah...

Rabu, 25 Juli 2012

JOHAN ASMARA: Bab ngawur 5: Surprise!


Bab Ngawur 5: Surprise!

Ini pagi ke-10 Jo di Paris. Sedang waktu awal Dhuha kini. Makanya di mesjid Paris saat itu ada beberapa orang yang sengaja shalat Dhuha, meski banyak juga yang malas tanpa alasan yang jelas. Langit Paris saat itu masih saja terhampar biru seluas biji mata memandang. Cerah benar pagi ini, suasana begini konon cocok untuk membikin puisi. Cocok juga untuk melamun. Warna biru untuk langit itu ternyata memang warna yang cocok untuk segala suasana yang ada di bumi. Pengunungan hijau berombak cocok di latari oleh biru langit. Pegunungan gersang dan gundul juga jadi oke ketika dipadan dengan langit biru. Padang pasir yang panas dan gersang, savana-savana di Afrika, gedung-gedung pencubit langit di perkotaan, sungai atau danau bahkan laut sekalipun tetap saja sangat ‘klop’ ketika bersanding dengan latar berwarna biru. Dan kita sangat menikmati birunya langit ini, kan? Subhanallah, Maha Besar Allah atas segala ciptaannya. 

Di Paris kini mungkin sudah hari rabu. Entahlah, saya tidak begitu ingat juga sebenarnya. Tapi itu mungkin tidak begitu penting, karena yang penting untuk pembaca ketahui pada pagi yang cerah ini adalah bahwa sudah 10 hari Jo di paris, bersama Deedi, namun belum satupun curhat-curhat mentel Jo tentang perasaannya ke Agnis tersampaikan ke Deedi. Padahal kan itu satu-satunya tujuan Jo jauh-jauh ke Paris. Mengapa sampai demikian yang terjadi? Yah, mungkin ini-lah yang sedikit penting untuk kita ketahui nanti.

--------------------------------------------------/////---------------------------------------

Rupa-rupanya Deedi sangat sibuk dalam sepuluh hari ini. Kegiatan ini itu di mesjid dan kerja sampingannya di luar mesjid membuat Deedi kehabisan waktu dan tentu dong kehabisan tenaga ketika pulang. Setiap hari setelah shalat shubuh, setelah membereskan keperluan mesjid, membersihkan tempat wudhu dan WC-nya, mengelap lantainya dan menyapu halamannya Deedi langsung ‘caw’ keluar dari mesjid. ‘Caw’ itu kayaknya bahasa salah gaul, artinya kurang lebih ‘pergi’ atau ‘berangkat’. Mungkin dalam sehari Deedi hanya sempat mengobrol sepatah dua patah kata saja dengan Jo, atau hanya sekedar ‘say hello’’ saja. Padahal mereka tinggal dalam satu kamar yang sama. Ini aneh sekali, pikir Jo. Kok Deedi gak sehangat ketika mereka chatingan dan telpon-telponan? Kok Deedi gak se-akrab ketika komen-komenan di fesbuk dan twitter? Apakah keakraban di dunia maya juga merupakan keakraban yang maya? Tak riil, tak nyata.

Deedi baru pulang dia ketika malam-malam sudah disebut larut, sekitar pukul 12-an tengah malam lewat begitu. Itu pun Jo juga sudah memulai musikal malamnya dengan dengkur-dengkur berirama naik-turun yang indah. Kesendirian di mesjid membuat Jo kesepian dan bosan dan jadinya cepat ngatuk. Memang pernah beberapa malam yang lalu Jo mencoba menghibur diri sendiri dengan main Ular tangga, Halma dan Ludo. Jo pikir mungkin bisa jadi dia terhibur dan malamnya jadi meriah hingga Deedi pulang, tapi tentu saja itu dusta. Sebab mana ada kemeriahan main ludo, Ular Tangga dan Halma jika dimainkan oleh dirinya sendiri. Ketawa sendiri, menang sendiri, kalah sediri, maki-maki sendiri. Kan jadinya garing. Makanya permainan sendiri itu akhirnya punah sendiri. Jo lebih memilih tidur.

Meski pulang tengah malam buta biasanya Deedi tak langsung tidur juga. Dia langsung menghidupkan laptopnya dan segera kasak kusuk dengan keyboardnya hingga lupa waktu, entah apa yang dia lakukan. Terkadang dia senyum-senyum sendiri dan ketawa cekikan sendiri bersama layar laptopnya itu. Nanti sekitar pukul 3-an pagi Deedi baru beranjak untuk istirahat. Tentu saja terlebih dahulu dia pindahkan Jo dari atas kasurnya ke lantai, tanpa sebongkah bantal dan guling. Jo 100 persen nge-lantai.

Sebenarnya di sela-sela kesadaran yang tidak penuh akibat tidur Jo tau juga jika Deedi telah pulang. Namun Jo udah gak semangat lagi untuk bangun karena matanya terlalu berat untuk diangkat. Jo juga agak-agak ngerti, mana mungkin ngajak ngobrol Deedi yang baru pulang begitu, apalagi udah larut malam. Terkadang Jo mau bertanya, tapi dia pikir apa haknya bertanya atas kesibukan Deedi. Barangkali kan Deedi memang demikian.

Jadinya setiap hari belakangan ini kerjaan Jo di Mesjid ya melamun saja. Paling sibuk cuma saat bantu-bantu, eh lebih tepatnya saat disuruh-suruh  sama Om Khaleed, bos marbot di mesjid itu. Pria ramah yang ternyata berasal dari pulau Nias Sumatera Utara. Ya, ini sedikit mengagetkan memang, ternyata Om Khaleed berasal dari pulau Sumatera juga. Jo baru tau ketika disuruh Om Khaleed untuk memfotokopi berkas-berkas ijazah sarjananya. Dia katanya dipanggil oleh sebuah perusahaan di Paris dan diminta untuk membawa berkas-berkas yang diperlukan. Di antara berkas-berkas itu Jo jadi terbaca alamat asli dan asal Om Khaleed itu. Jadi, itu saja aktifitas Jo di Paris. Bisa dibilang 89,77 persennya hanya digunakan Jo untuk melamun.

----------------------------------------------------/////--------------------------------------------------------

Ini sudah pagi ke-13, dan alhamdulillah cerah juga. Jo juga baru saja membantu (disuruh) Om khaleed memangkas pohon bonsai di taman mesjid, biar rapi. Deedi tentu saja sudah berangkat seperti biasanya. Setelah kerjaannya beres Jo minta ijin ke Om Khaleed untuk balik ke kamar sebentar, mau istirahat dikit. Jo merasa badannya agak kurang enak. Beberapa hari belakangan dia sangat bingung dan berpikiran mikirin perangai Deedi, Jo merasa minder dan rendah diri karena merasa seolah-olah dicampakkan oleh Deedi. 

Setelah membasuh wajah Jo berbaring di kasur. Jarang-jarang kan dia bisa tidur di kasur, ntar kalo Deedi pulang Jo harus rela tidur berpelukan dengan lantai kamar yang dingin lagi. Ketika Jo akan melamun Jo tersadar sesuatu. Jo terpikir kenapa dia selama ini gak pakai saja laptop Deedi yang ada di atas meja? Padahal Deedi kan gak setiap hari bawa laptop. Kan lumayan bisa sedikit menghibur diri, dan tentu saja yang lebih penting bisa kembali mengirim surat cinta ke Agnis yang kemarin gagal terkirim. Kalo lihat laptop Deedi Jo jadi teringat juga laptopnya yang udah ke-akhirat. Terlinang juga airmata Jo mengingat tragedi malam itu. Tapi ya sudahlah, Jo menepis kenangan laptopnya yang telah almarhum itu.

“Aaahh, kan guweh bisa kirim surat ke Agnis dari dulu...kenapa guweh jadi bego, ya?” gumam Jo serius, karena dia pikir selama ini dia jenius.

Jo langsung bangkit dari kasur dan bergegas ke meja untuk menyapa laptop Deedi. Dia bikin laptop hidup. Jo memang punya kemampuan menghidupkan dan mematikan laptop. Keren, kan? Tentu saja tidak.

“Bip” layar laptop muncul. 

Namun apa mau dibilang, tiba-tiba ada yang sangat mengagetkan Jo. Roman muka Jo langsung berubah 720 derajat! Matanya terbelalak.Mulut Jo juga jadi otomatis ternganga lebar seperti kerbau menguap, tapi dia tutup pake kedua telapak tangannya. Pose ini memang sering digunakan oleh orang-orang yang merasa dirinya kaget bukan main. Begitulah yang Jo lakukan. Ini bencana alam.

“APPUUAA?! KE...KE-KENAPA FOTO A-AGNIS JADI WALLPAPER?!! ” pekik Jo, dengan mulut yang bergetar. 

“ke-kenapa...ke-kenapa?! De-Deedi...tegaaa!!”

Jo jadi marah sekali dia. Habis kata. Badannya gemetar hebat menahan amarah. Kukunya mulai tumbuh runcing-runcing memanjang dan hitam. Gigi taringnya juga mulai bertambah panjang 4x lipat. Muka dan badan Jo tiba-tiba mulai ditumbuhi bulu hitam dengan cepat, tak lupa telinga Jo juga menjadi lonjong runcing memanjang ke atas. Matanya mulai memerah dengan dengus nafas yang berat dan memburu. Wow! Jo berubah jadi drakula! Hehe, gak cing, mohon abaikan paragraf ini.

Hari yang cerah inipun hancur sudah. Di sudut kanan foto wallpaper ini ada pula disitu tulisan yang makin membuat Jo ingin mengamuk dan ingin meratakan menara effiel dengan tanah. “Agnis-Deedi, forever in lope”. Tertera dengan tinta berwarna merah jambu bikinan Photoshop.

Romantiskah Paris itu kini? Oh tentu saja bagi Jo tidak. Paris menjadi begitu memuakkan.


#nyambung lagi...

Affif
25 Juli 2012
Lagi di kamar…

Rabu, 04 Juli 2012

Johan Asmara, BAB Ngawur 4: Di Paris Kini



Iya, ini dia negara Perancis. Negara yang sedang dirinya kuatir dengan permasalahan merapuhnya bahkan runtuhnya institusi keluarga, yang tentu mereka takut nanti berefek ke kehidupan masyarakatnya. Kan keluarga adalah pondasi masyarakat, jadi kalo keluarga banyak yang hancur otomatis masyarakatnya juga ntar rubuh sendiri. Bahkan disini masalah keluarga begini terus dibahas secara serius hingga ke lingkungan akademik. Yah, bentuk masyarakat yang individualis dan industrialis telah ngubah gaya hidup orang Perancis secara umum, mereka sadar itu. Dan Jo tentu saja dia tak peduli dengan masalah begitu.

Iya, karena permasalahan hatinya-lah yang telah membikin dia harus kemari.  Iya, ke Paris. Buat nenangin diri. Buat menghindar.  Buat agar diri lupa sama Banda Aceh, yang telah membikin Jo ingat terus sama dia... iya, sama Agnis.

Mengapa Paris? Kenapa gak ke Zimbabwe aja? Iya, alasannya sederhana. Jo sebenarnya ada sebiji teman yang dia beri kepercayaan yang tinggal di kota ini. Teman yang jadi tempat dia mencurahkan isi hati, yang istilah gaulnya curhat. Curhat yang dia rahasiakan ke seluruh warga kota Banda Aceh, namun tidak menjadi rahasia di Paris. Deedi namanya, nama teman yang akan Jo temui di Paris, temen yang tahu perihal isi hati Jo yang terus cenat-cenut.

Asal kalian tau, Jo merasa hanya Deedi yang selama ini ngerti sama perasaan Jo. Hanya  Deedi yang dengerin setiap keluh kesah Jo.  Hanya Deedi yang sabar dengerin curhat-curhit Jo. Hanya Deedi yang ngasih Jo kata-kata motivasi agar tetap tabah. Hanya Deedi yang setia komenin status-status FB-nya Jo, bahkan hanya Deedi yang nge-RT-in twit-twitnya Jo. Dan hanya Deedi yang kini mau menampung Jo di Paris, soalnya kan Jo hanya kenal Deedi di Paris. Deedi Bonaparte namanya, lelaki tak berjilbab yang juga dulu berasal dari Banda Aceh ini. Lelaki yang tentu kalian sebagai pembaca masih misterius dan deg deg-an pengen tau bagaimana orangnya. Namun tidak bagi saya, karena saya sudah tau.

***

Jo malam tiba di Paris melalui Bandara internasional Charles de Gaulle. Matahari tak keliatan malam itu, entah kemana dia malam-malam begini, padahal kan lagi dingin-dinginnya. Dan tak ada yang lain yang menjemputnya selain, iya, Deedi Bonaparte. Jo di jemput pake kendaraan pribadi Deedi. Sepeda berkeranjang depan berwarna merah jambu, yang biasa digunakan oleh emak-emak di kampung untuk belanja sayur-mayur di pasar. Maklum ini sedang awal bulan, Deedi sedang dilanda musim kemarau keuangan, kiriman dari kampung masih enggan menyelinap ke rekeningnya. Jadi wajar jika Deedi gak bisa jemput Jo pake taksi. Ini masih lumayan pake sepeda, untung gak jalan kaki.

Setelah cipika-cipiki barang 4 menit, kangen-kangenan barang 7 menit, tanya basa-basi barang 5 menit, barulah mereka beranjak keluar dari gerbang utama disebelah utara bandara. Mereka segera saja ke parkiran, yang diiringi datangnya seorang tukang parkir yang dia langsung saja mengelap tempat duduk sepeda Deedi dengan handuk kecil yang tadi dililit di lehernya. Dan Deedi pun ngasih duit ke tukang parkir yang datang tadi dengan ikhlas. Eh, ini perasaan persis kayak tukang parkir di Indonesia, ya? Yaelah...hehe. 

Deedi pun membonceng Jo. Baru sekitar 5 menit berlalu, bulir-bulir keringat Deedi udah gak mau sabaran, mereka gak mampu menahan diri untuk tidak segera keluar dari badan Deedi. Padahal kan malam lagi dingin-dinginnya, namun tetap saja dinginnya malam gak bisa menghalangi cairan tubuh itu keluar berjejal melalui pori-pori kulit Deedi. Soalnya ternyata tumpangan Deedi beratnya minta ampun. Bukan... bukan karena Jo-nya yang berat, karena kenyataannya Jo itu kurus. Tapi barang bawaan Jo yang kelewat banyak. Ini itu untuk perawatan kulitnya saja sampe 2 tas, ini itu untuk perawatan rambut satu ransel gunung, belum lagi pakaian ini itu 2 kardus Indomie, sepatu ini itu, dan lain-lain yang Jo rasa penting untuk dia bawa. Rencananya Jo mau  menyeimbangi kehidupan kawula muda Prancis yang konon katanya sebagai kota pusat fashion dunia itu. Wajar jika Jo gak mau kalah model. Hati boleh patah, tapi gaya tetep move on.

 Namun demikian tak terlihat keluhan dari wajah Deedi, dia tetap berusaha dan berjuang untuk tersenyum di depan Jo. Juga Deedi berusaha dan berusaha dan berusaha untuk tetap semangat mendayuh sepeda kesayangannya itu. Urat-urat lehernyapun terlihat menegang jelas. Derit-derit sepeda yang dibeli seken (second) di pasar bekas itupun terdengar samar. Tertutupi dengan suara riuh kesibukan lalu lintas di kota Paris yang masih ramai. Sehingga Deedi gak nyadar kalo sepedanya lagi merengek-rengek minta tolong karena hampir mampus kelebihan beban. Dan Jo dibelakang sedang asyik-asyiknya twitter-an.


***

 Di paris Deedi tinggal di mesjid Agung Paris (Mosquee Grande De Paris) yang terletak di Fifth Arrondissement. Berselang beberapa blok dari kantor walikota kota Paris. Dari sinipun menara Eiffel terlihat jelas dan mempesona. Angkuh sekali besi tua itu. Dia tau bahwa dia sedang dipuja-puja sebagai ikon romantisme ala ABG-ABG gaul nan alay.

Deedi jadi asisten marbot di mesjid itu, Om Khaleed namanya, sehingga wajar jika Deedi bisa tinggal disitu. Diberi satu kamar lumayan seluas 3x3,5 meter yang bisa dia gunakan buat macam-macam. Tentu saja juga bisa tidur disitu, namanya juga kamar, masak kalian gak tau apa fungsi kamar.

Di kamar ini pula Jo nanti akan menginap untuk beberapa waktu yang entah berapa lama. Mungkin sampai dia bisa ngelupain Agnis, meski tentu saja itu tidak mungkin. Tapi jo tidurnya tentu saja di lantai, karena kasur cuma ada satu buat Deedi. Meski sederhana, namun kamar ini memiliki kelengkapan fasilitas yang memuaskan. Televisi layar flat merek Neksian keluaran terbaru 40 inchi, radio bersuara jernih, infokus, mesin cuci, kompor gas, oven, teropong bintang, handphone, iPad, iPhone, kulkas mini, komputer dengan spesifikasi canggih, laptop yang juga gak main-main, dan juga terhubung dengan koneksi internet yang luar biasa cepat. Jo juga agak heran kenapa Deedi memilik perangkat elektronik selengkap dan sebanyak ini. Apalagi setahu Jo bahwa Deedi bilang dia tidak memiliki pekerjaan yang jelas di Paris. Jo merasa kayaknya ada sesuatu deh, tapi dia urung memikirkannya, sebab pikirannya sibuk dengan...iya lagi-lagi, Agnis.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 37 menit merekapun tiba dengan selamat di mesjid indah ini. Sesampai di Mesjid Agung Paris tadi Deedi langsung membawa Jo ke kamarnya -Deedi telah meminta izin Om Khaleed sebelumnya perihal kedatangan Jo-. Dan Deedi langsung saja terkapar di kasurnya, kecapekan. Lebih tepatnya ‘hampir mati!’. Dia bahkan tak sempat mengganti pakaiannya yang basah kuyup oleh keringat. Tak sempat lagi berbincang-bincang ini itu dengan Jo. Deedi hanya sempat menuliskan password untuk koneksi internet yang ditanyakan oleh Jo. Jo merasa dia ngerti kecapekan Deedi makanya dia membiarkan Deedi segera istirahat, niat untuk curhat tentang Agnis Jo urungkan untuk sementara. Mudah-mudahan dengan begini Deedi akan menganggap Jo adalah seorang teman yang berpengertian lagi baik hati.

Segera Jo buka dan hidupkan laptopnya di atas sebuah meja kecil yang terdapat di sudut ruangan itu. Diatas meja tersebut ada satu-satunya jendela untuk kamar Deedi ini, jendela kecil yang berguna sebagai pintu masuk cahaya dan udara saja. Juga untuk menambah kesan manis kamar asisten marbot itu. Tidak ada satu orangpun yang berniat menggunakan jendela yang hanya berukuran 50x50 cm itu sebagai pintu masuk. Yakinlah.

Jo tiba-tiba ingin menulis sesuatu. Entah kenapa tiba-tiba saja dia ingin sekali menulis sebuah surat romantis untuk Agnis yang kini telah jauh darinya, di banda Aceh. Mungkin ini efek dari romantisnya kota Paris, ya? Agar tidak bingung mencari inspirasi untuk menulis surat cinta, Jo-pun mengambil buku dari salahsatu tasnya, ada di situ buku yang dia cari. Buku terkenal karya Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk judulnya. Dia lalu sibuk membolak-balik halamannya, mencari beberapa contoh surat yang dibuat oleh Zainuddin untuk Hayati di buku tersebut. Setelah sekitar dua jam-an lebih mencari, menganalisa dan menimbang akhirnya Jo merasa mendapatkan apa yang dicarinya. Jo langsung bersemangat mempermainkan tuts-tuts pada keyboard laptopnya yang udah nunggu dia sedari tadi... Jo pun menulis;


>
Dear Agnis, Hai...

Barangkali kamu tidak mengenalku, tapi percayalah bahwa saya begitu mengenalmu. Saya baru berani menulis surat ini kepadamu, karena saya baru saja tiba di Paris, kota yang katanya romantis. Tapi tanpa kamu nyatanya kota ini tidak begitu, biasa-biasa saja.

Agnis,surat ini mungkin lancang, mungkin juga tak layak, mungkin juga norak. Namun aku mau tidak mau harus mau mengatakannya kepadamu. Bahwasanya jiwaku telah diisi sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hatiku, telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar Tuhan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan jadi istriku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat. Dan saya tiadakan khianat kepada janjiku, tidak akan berdusta di hadapan Tuhan, dan di hadapan arwah nenek moyangku…..jika daku kekasihmu, berjalan jauh atau dekat sekalipun, entah tidak kembali dalam masa setahun, masa dua tahun, masa sepuluh tahun, entah hitam negeri Paris ini baru daku kembali kesana, namun saya tetap menuju ke cintamu. Carilah bahagia dan keberuntungan kita ke mana jua pun, namun saya tetap untukmu. Jika kita bertemu pula, saya akan tetap hanya untukmu, Agnis, untukmu…”

Sekian, bye –bye....
by: Lovely Jo
>

Setelah selesai mencomot dan merevisi surat Hayati untuk Zainudin di novel Hamka tersebut Jo menjadi sangat puas. Dia baca berkali-kali. Berkali-kali, lagi dan lagi. Dan berkali-kali pula dia menjadi senyum-senyum sendiri, gak tahan oh betapa senangnya dia. Lama pula dia tenggelam mengulang-ngulang melihat isi surat yang dia comot dengan semena-mena itu. Macam bagaikan pungguk udah bertemu bulan. Senang tak tertanggung rasanya hati Jo.

Tersadar bahwa tujuan surat itu dibikin untuk dikirim ke Agnis, bukan untuk dilihatin doang, Jo-pun segera tergopoh membuka emailnya dan mengkopi surat tadi segera ke halaman kosong e-mail. Lalu tanpa ragu-ragu tapi malu-malu dia masukkan alamat email Agnis sebagai tujuan yang hendak dituju oleh surat cintanya itu. Tentu saja hatinya menjadi berdegub kencang, jari jemari tangan dan kakinya juga jadi gemetaran, efek dari rasa super senangnya. “Sip, beres, tinggal ‘send’ dah” gumam Jo dalam hati.

“Bip”

Tragis. Laptop Jo tiba-tiba mati persis sesaat Jo mau mengklik perintah ‘Send’ dengan hati yang sedang mekar berbunga tadi. Kehabisan baterai untuk hidup rupanya, Jo khilaf gak merhatiin hal begituan.

“Celaka 17!!” Pekik Jo, kaget.

Jo terdiam, gak nyangka bakal begini kejadiannya. Syok. Jo segera bangun ingin mengambil ‘charger’ laptopnya. Dan berselang 5 detik kemudian listrikpun ikut-ikutan padam. Jo melotot geram. Bunga-bunga yang tadi sedang mekar-mekar di hatinya tiba-tiba saja menjadi layu lalu hancur kayak diinjak-injak kerbau. Jo pun reflek membuka jendela satu-satunya di kamar tersebut, yang tingginya lebih dari 15 cm diatas kepala Jo dan tepat berada di depannya. Kenyang dengan kejengkelan plus geram Jo pun melempar leptopnya keluar jendela tersebut tanpa pikir pendek. Jo kalap membara.
“kurang Asem PLN Paris!!” pekik Jo. Dia pikir di Paris ada yang namanya PLN.

“Kraaaak!!...Kraaak!” Jo samar tapi jelas mendengar bunyi suatu benda seperti pecah tergilas dari luar jendela. Mirip-mirip bunyi kerupuk udang atau kerupuk mulieng yang dipijak-pijak.

Tak butuh waktu lama, dalam remang gelap Jo langsung bergegas menaiki meja dan melongo keluar jendela tadi. Dengan panik ingin mengecek leptop mahalnya tadi. “Mudah-mudahan tidak apa-apa” katanya. Namun fakta di luar jendela kamar tersebut adalah ternyata jalan rayanya kota Paris yang sibuk. Dan bukannya taman mesjid yang seperti Jo kira. Kamar ini rupanya terletak di paling belakang mesjid sekaligus sebagai dinding pembatas antara jalan raya di luar dengan mesjid. Dan seperti yang para pembaca bayangkan, kondisi laptop Jo sudah tidak mungkin tertolong lagi. Remuk lebur digilas truk pengangkut sembako di kota Paris yang sibuk itu. Isi perut laptop Jo terburai kesana kemari tanpa ampun. Kayak sebuah semangka 7,2 Kg yang dijatuhkan dari atas menara mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh.

Badan Jo gemetar melihat pemandangan biadab itu. Jo memejamkan matanya mencoba mengendalikan diri. Hatinya remuk redam, leptop-pun remuk gurindam macam kerupuk mulieng yang hancur terinjak. Deedi pun tersenyum dalam tidurnya, sepertinya Deedi sedang dihampiri mimpi indah. Oh Paris...

#Bersambung...
Mesjid di kota Paris
Di dalam Mesjid Paris
  

 04 Juli 2012
Lagi di kamar, lg menyambut Ramadhan datang...:))


Maraji:
-          Institusi Keluarga dalam masyarakat Perancis: Krisis dan Komitmen, Joesana Tjahjani, M. Hum