Rabu, 28 November 2012

The Lajanks



Ada yang membikin saya teringat-ingat pada beberapa pertemuan dengan kawan-kawan menjelang hari raya Idul Adha 1433H yang lalu. Sebenarnya bukan hal yang terlalu penting juga, soalnya pertemuannya cuma berbentuk ngopi bareng di warkop saja. Tapi setelah dipikir-pikir kayak-kayaknya penting juga untuk diangkat sesekali. Yah, minimal biar gak lupa saja. Ecek-eceknya biar menjadi catatan harian gitu, lah. Meski paling juga gak ada yang baca. Hehe.

Baik ketika itu di Banda Aceh maupun di Blangpidie, baik ketika ngopi dengan kelompok A maupun dengan kelompok B atau Y. Wajahnya (dibaca: Rupanya) secara garis besar dan juga garis halus dan garis putus-putus, ngopi bareng itu ada memiliki yang namanya benang merah yang sama. Yakni perihal yang membahas curhatan beberapa kawan-kawan tentang jabatan ‘single’ yang masih terukir indah didadanya. Bahkan sebagian kawan-kawan ngopi tersebut secara umur malah jauh lebih tua dibandingkan saya yang terlihat agak muda (jika dilihat dari 17 tahun yang lalu hehe). 

Setelah menyimak kesana kemari, kemari kesana, kesana-kesini, setidaknya saya mendapatkan beberapa pandangan dan secuil kesimpulan atas perihal mengapa jabatan ‘bujangan’ yang sedang mereka derita itu masih mereka pertahankan sedemikian rupa. Semoga saja ini nanti menjadi catatan sejarah yang penting di dunia perlajangan di masa yang akan datang. Mudah-mudahan.

Pertama, yang saya tangkap, rupanya pada sebagian besar lajang-lajang ini perkara finansial atau barangkali perihal mahar bukanlah masalah yang begitu berarti. Mereka ini sejatinya adalah orang-orang yang sudah memiliki penghasilan, baik sebagai abdi yang dibayar oleh negara maupun sebagai orang yang kesana-kemari yang negara gak pernah peduli padanya. Laptop mahal, Hp mentereng dari berbagai jenis, gadget-gadget keren, jam tangan anti-hujan, anti-api dan anti-ludah, bahkan diantara mereka udah ada yang memiliki rumah dan mobil, pokoknya semuanya mereka punya. Mereka beruang! Eh, maksud saya berduit! Nah, itu buktinya, ternyata memang masalah finansial bukanlah hal yang utama bagi mereka. Mereka lelaki yang sudah mampu. Cateeet!

Dan hasil dari sebagian besar obrolan dengan mereka ternyata saya memang paling sedikit menerima komplain atau keluhan perihal tingginya mahar atau masalah finansial. Kalaupun ada komplain namun itu tak menjadi permasalahan yang dominan dalam usaha mereka untuk meluluh-lantakkan benteng kelajangan itu. Sehingga sementara ini wajar jika saya sepakat berasumsi secara asal-asalan dan suka-suka bahwa anggapan umum yang sangat populer beberapa dekade belakangan, yang berbunyi, “Tingginya mahar membikin lajang-lajang menangis...” adalah agak sedikit keliru. Meski tidak sepenuhnya keliru, namun ada keliru sedikit. Pokoknya tidak keliru 100 persen, namun tidak benar 100 persen juga. Kira-kira begitulah, mohon dipahami.

Dari hasil investigasi saya yang tentu saja tak ilmiah ini, permasalahan terbesar ‘bujang jenis pertama’ ini sebenarnya adalah pada saat mengambil keputusan untuk menikahi siapa. Mereka masih mesra berkutat dengan pertanyaan “Menikahi siapa, ya?”. Pertanyaan, “Menikahi siapa, ya?” itu sepertinya bergaung-gaung dikepala mereka. Sehingga kita bisa mengambil dugaan, bahwa mereka sedang di landa badai kebingungan dalam mencari serta menentukan siapa muslimah yang tepat untuk mereka tasbihkan secara sah sebagai istri terkasih. Tempat berlabuhnya hati, bersandarnya kasih. Tempat yang pas menanamkan cinta, demi memetik yang namanya ridha dari Ilahi. Hahaa...Sihhiiy, serasa jadi kang Abik.

Kalo cuma tahap memacari perempuan itu mah mudah bagi laki-laki. Gampang. Tetapi giliran untuk memutuskan perempuan yang pas untuk dijadikan kawan seperjuangann dalam hidup, dalam susah lagi suka, ini baru menjadi perkara yang ribet bagi kaum ini. Banyak sekali pertimbangan ini itu yang mereka pikirkan. Di kepalanya bakal bersiliweran pertanyaan ini itu, seperti, “Cocokkah dia? Pantaskah menjadi ibu bagi anak-anaknya nanti? Penyayangkah? Bisa menjaga dirikah dia? Baikkah agamanya? Bisa dipercayakah? Bisa masakkah? Bisa minumkah?” Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang macam-macam, tergantung siapa lelakinya. Kalo lelaki itu bodoh maka pertanyaannya juga yang bodoh-bodoh. Kalo lelaki tersebut baik maka pertimbangannya juga yang menurutnya apa yang baik-baik saja. Yang baik agamanya maka tentu pertanyaannya berbeda dengan lelaki yang tidak peduli sedikitpun perihal agamanya. Pokoknya beda-beda-lah. Namun catatan pinggir saya yang lain adalah, semakin melankolis seorang lelaki maka akan semakin macam-macam pula yang dia pikirkan dan pertanyakan. Persis seperti ‘anak muda’ yang di sinetron-sinetron, yang suka ngomong-ngomong sendiri didalam hati. Yang suka banyak prasangka yang enggak-gak. Bahkan saya sempat terpikir bahwa mungkin tipe lelaki yang melankolis adalah tipe lelaki yang paling menderita di dunia.

Jadi, secara garis besar ya begitu, menetapkan siapa yang pantas menjadi istri jauh lebih berat dan memusingkan kaum yang umumnya memiliki ego tinggi dan sok paten ini. Secara teori mereka tahu persis kriteria perempuan yang baik, namun bingung menentukan dan memutuskan siapa perempuan yang baik itu. Bahkan bingung hingga pada tahap mau mencari dimana calon istri yang baik itu.
Makanya meski umur udah tua, lebih dari 25 tahun, atau bahkan diatas 30 tahun masih banyak lelaki yang bergelimpangan di jalan kelajangan. Kalau saja mereka udah menemukan perempuan yang cocok, maka hanya perlu waktu seminggupun mereka siap segera menikahi, tak peduli berapapun mahar yang harus dikeluarkan. Mau 50 atau 100 mayam emaspun mudah baginya. Bahkan fakta membuktikan kaum ini siap merampok atau berbuat tanpa otak hingga diluar aturan agama hanya untuk menikahi orang yang udah dirasanya cocok. Uang bisa dicari, tapi hati? #sedeeeepp...

Yang kedua adalah perkara yang juga sering saya dapatkan sehingga wabah kelajangan semakin mekar kayak bunga bangkai di pedalaman hutan Sumatera. Yakni perangai “Over-Fisik Oriented (OFO)”. Kata “over” ini kalo di teknik sipil sering kami pakai untuk menjelaskan kondisi yang ‘berlebihan keterlaluan’ sehingga membahayakan keamanan konstruksi. Nah, wajah-wajahnya (baca: rupa-rupanya) penyakit OFO ini sedang hangat mewabah di kalangan kaum laki-laki. Wabah ini menyerang siapa saja. Tak pandang dia bulu, baik yang ‘berjenggot’ maupun yang tanpa jenggot (yang mulus kayak cewek) bisa terkena wabah ini. Kalo dikalangan para ‘jenggotan’ saya menduganya mungkin wabah ini menyebar akibat kelewat banyak baca serta nontonin film-film sejenis Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih yang konon katanya reliji itu. Tentu saja anggapan saya ini bisa saja salah, meski bisa juga benar sedikit. Namanya juga menduga-duga. 

 Bagi saya tidak ada masalah dengan mengharapkan perempuan yang fisiknya baik serta yang sehat jasmaninya. Toh setau saya hal tersebut tidak ada larangannya. Namun yang saya maksud dengan ‘over’ diatas adalah ketika fisik sudah menjadi satu-satunya pertimbangan dan penentu. Diperparah lagi dengan tambahan syarat-syarat seperti; harus langsing, harus putih, harus berambut lurus, harus begini harus begitu...Hei..heiii... emangnya perempuan itu burger yang bisa dipesan-pesan se-enak jidatmu, Tuan? Bagi saya, perangai yang begitu udah gak wajar, tapi kurang di-ajar. Yang lebih aneh dan janggalnya lagi, lelaki yang mesan-mesan begitu juga gak ‘profitable’. Barangkali inilah akibat jika tidak punya cermin di rumah, jadi jarang ngaca. Itu saja.

Trus, para lajang ini kadang juga memperparah kelajangan yang dideritanya dengan sidrom yang lain. Yakni sindrom “POKOKNYA HARUS DENGAN FULANAH Z (PHDF Z)!!”. Pemilik sindrom ‘PHDF Z’ ini biasanya memiliki kalimat sakti begini,” Kalau bukan dengan Fulanah Z maka apalah arti hidupku ini, lebih baik kupergi meninggalkan dunia ini.” Atau begini, “Tanpa Fulanah Z aku bakal hancur bagai kue bakwan yang hancur dicabik-cabik merpati.” Dan kalimat-kalimat sakti lain yang sejenis dengan yang di atas. 

Makanya, meski sudah ditolak dia tetep ‘keukeuh’ sama Fulanah Z. Hadeuuh...saket kepala awak. Bahkan sama Ibundanya yang udah ngejaga dia dari kandungan aja dia gak sebegitu lebaynya. Kenapa sama perempuan yang belum pernah berkorban seharipun atau sedikitpun atas hidup kita, kita malah menjadi gak jelas begitu? Disini saya berpikir bahwa menikah bukan lagi tujuannya, tapi Fulanah Z lah yang jadi tujuannya satu-satunya. Makanya pemilik sindrom ini seolah-olah memiliki alasan syar'i untuk semakin berlama-lama melajang-ria. 

Jadi, untuk pemilik sindrom ‘PHDF Z’ ini saya kasih rumus umum saja dari salah satu kitab rahasia karangan saya, “Kitab Lelaki di Ujung Asmara”. Kitab yang belum pernah terbit dan belum pernah tenggelam. Yang didalamnya tertulis bahwasanya,” Kita, para lelaki boleh melamar siapa saja yang kita mau. Namun mereka, para perempuan, boleh menolak lamaran siapa saja yang mereka mau...” Ini kaidah umum yang harus diingat-ingat oleh kaum saya. Karena saya yakin perempuan yang baik juga bakalan memilih dan memutuskan lelaki yang baik untuk dia serahkan dirinya. Jodoh memang Allah yang atur, namun harus diingat bahwa itu bukanlah pengaturan yang serampangan, kan.
Terakhir, akhir dari amatan saya, saya mungkin kepingin bilang, bahwa para lajang-lajang beriman ini sebenarnya hanya keliatan tegar di permukaan saja. Apalagi kadang-kadang mereka sesumbar “single tapi hepiii”, namun kenyataannya kalo kita congkel hatinya pake garpu maka barangkali terukir disitu kata ‘maaak, heeelp awquuuh! Awquh galaaauuww!’. 

Tetapi tentu saja perayaan kegalauan dari para lajang-lajang ini berbeda-beda. Ada yang galau kayak bebek lalu sengaja dia rembeskan kemana-mana melalui berbagai macam media. Saya kurang begitu tau dengan niat apa mereka begitu. Tipe yang begini setau saya banyak. Namun di sudut yang lain setau saya ada juga yang galaunya hanya dia rayakan dengan doa-pinta kepada Rabbnya saja. Kalaupun dia curhat-curhatan maka kegalauannya itu hanya dia utarakan pada orang-orang yang bisa dipercayai agamanya. Itupun dengan maksud agar nanti dicarikan solusinya, bukan hanya untuk menikmati kegalauan dengan selera rendah yang  gak penting.

Trus, saya entah kenapa merasa yakin bahwa para lajang ini sebenarnya paham dengan masalahnya dan tau apa yang harus dia lakukan. Makanya saya segan untuk ngasih saran ini-itu disini. Saya hanya bisa kasih yang namanya doa selalu agar semua kawan-kawan saya itu selamat imannya, diberkahi hidupnya dan segera berakhir lajangnya. Salam Super-man!



Affif, Brawe, 05 Nov 2012
Panglima Besar Genk Motor Antar Jemput Istri plus Anak