Selasa, 27 September 2011

Wanita Jalang



Itulah pada tahun 101 Hijriah (diriwayat yang lain 106 H) waktunya. Waktu yang itu telah lama berlalu. Yang ketika itu penduduk Makkah Al-Mukarramah adalah mereka yang sedang dirudung sedih. Diladeni kedukaan. Akibat seorang tabiin yang zuhud yang lahir pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Thawus bin Kaisan Alyamani, meninggal dunia. Telah beliau memiliki takdir akan hal ini. Takdir yang itu beliau telah sepakati ketika sebelum dirinya itu dihadirkan oleh Allah melalui orang tuanya ke muka bumi.

Dan hadir-lah beribu-ribu manusia mengantar tabiin tersebut. Semua adalah mereka yang merasa kehilangan. Kehilangan salah seorang manusia yang para ulama haditspun telah bersepakat atas kejujurannya, keadilannya, kezuhudannya, dan banyak ibadahnya. Salah seorang yang dia juga berguru kepada Abdullah bin Umar bin Khattab. Yang dia-nya juga sempat bertemu dengan lima puluh orang sahabat.

Namun, lihatlah itu disana, di sebuah rumah itu. Rumah yang di dalamnya adalah dia seorang wanita tua yang sedang begitu haru sedih dirinya akibat meninggalnya Thawus itu. Yang ternyata wanita tua ini telah menjadi salah seorang yang dia rupa-rupanya memiliki kenangan yang sangat berharga dengan tabiin tersebut. Maka berceritalah dia pada sekalian manusia yang ada di dekatnya saat itu, yang lebih tepat jika saya sebut itu sebagai teman-temannya.

“Dulu aku adalah wanita jalang, suka menggoda setiap laki-laki shaleh. Kecantikan dan rayuanku mampu memperdaya kebanyakan mereka. Suatu hari aku datang ke rumah Thawus dan kutawarkan diri ini. Dengan ramah ia menerimaku. Namun untuk memenuhi tawaranku, ia memohonku untuk datang ke rumahnya besok hari saja.”

“Keesokan harinya,” lanjut wanita tua itu bercerita, “Aku datang ke rumahnya dengan penuh harap. Kudapati Thawus telah bersiap-siap menunggu kehadiranku. Ia mengajakku berjalan-jalan ke luar rumah, aku pun mengikuti kemauannya. Setelah lama berjalan, tidak kusangka ternyata ia membawaku menuju ke dalam Masjid Al-haram.”

Sambil ia bikin wajahnya menengadah, si-wanita yang telah habis jatah mudanya itu menjadi dia yang kembali berkisah,” Ka’bah berada di hadapan kami, sementara orang-orang khusyuk beribadah. Tiba-tiba Thawus berkata kepadaku: telanjanglah dan berbaringlah!. ‘Disini, Thawus!’ jawabku tersentak.”

Wanita itu menceritakanlah dia, bahwa Thawus menjawab pertanyaan wanita di depannya itu dengan penuh ketenangan. ”Ya, bukankah Dzat Mahasuci yang melihat kita di tempat yang sepi juga melihat kita di tempat ini?”

Wanita itu menjadi dia yang berkata pada teman-temannya,”Aku malu, namun aku juga merasa bahwa jawaban itu bagaikan air sejuk yang memadamkan nafsu yang sedang bergejolak di hatiku, dan sejak itu aku mulai bertobat.”

Begitulah kisah ini. Saya menjadi dia yang mengutipnya dari salah satu buku kumpulan hikmah di harian Republika. Begitu ada banyak sekali tentu hikmah dari kisah yang itu ditulis oleh Arif Chasanul Muna dengan judul yang sebenarnya sama dengan itu di atas. Sehingga terbukalah fakta bahwa ecek-eceknya saya telah mencontek judul di atas, padahal memang iya.

Dan terlihatlah itu contoh bagaimana manusia yang dicintai oleh beribu-ribu manusia karena keshalihannya. Sehingga selalu menjadi terlihat berduka pula rasanya se-isi bumi jika manusia-manusia seperti ini telah selesai masanya di bumi. Subhanallah.

Terlihat itu juga bahwa bagaimana hidayah akan bisa dihampiri oleh siapa saja yang dikehendaki Allah. Wanita jalang itu dia menjadi contoh kepada kita yang kini masih berjalan di atas bumi. Agar menjadilah kita ini janganlah sombong, besar kepala akibat merasa diri telah seakan kekal memiliki hidayah. Sehingga itu membikin mudah diri kita ini dalam menghakimi orang lain. Jadi tinggi hati juga sehingga memandang sebelah mata-lah itu si-fulan-fulanah yang barangkali belum baik ibadahnya menurut pandangan kita. Ya, padahal itu cuma akibat pandangan kita yang jelas lemah begini, namun kita menjadi dia yang besar kepala ketika menilai orang lain.

Kalau Arif Chasanul Muna membikin dirinya mengambil hikmah dari kisah itu adalah sikap 'ihsan'. Bahwa Allah SWT selalu memperhatikan tingkah laku dan aktifitas kita selama di bumi. Dimana saja. Pasti itu, tidak ada yang terlupa setiap detiknya.

Ya Allah, membaca hikmah dari Arif ini membikin saya itu merinding. Karena akibat mengingat diri yang masih jauh sekali dari kata sanggup mengamali konsep 'ihsan' itu. Malah saya adalah dia yang sering lupa untuk sadar bahwa selalu ada Allah yang terus melihat saya ketika di bumi. Baik ketika itu sedang ramai-ramai, meski itu ketika sepi sendiri. Aiih, sungguh saya adalah dia yang sekarang menjadi malu rasanya menulis ini. Huff, saya sekian-kan saja ya…



Affif Herman, 25 September 2011
Lagi di Jantho, lagi bikin diri ngobrol sama istri.

Senin, 26 September 2011

Surah At-Takaatsur

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.

Sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui,

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,

Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim (Jahannam).

Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin'.

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).



#Terjemahan Qur'an Surah At-Takaatsur [102]: 1-8

Surat Perintah Saya



Kepada Bapak Dyonisius Beti

Presiden Direktur Yamaha Indonesia,

Di,

Bumi
(kalo lagi gak ada di bumi, yaudah di Neptunus juga boleh).

Hai Pak Beti, tanpa banyak cincong, saya langsung bernafsu untuk mengabarkan kepada Anda bahwa foto di atas itu merupakan dia yang saya seru dengan Taufiq Kenny Bobo. Spesies manusia. Orang yang merasa paling ganteng di Indonesia. Orang yang ngotot mengaku bahwa dia orang asli aceh, padahal batak. Namun begitu, dia-lah orangnya yang kini merupakan salahsatu dari sekian manusia yang ada di bumi yang, alhamdulillah, telah menjadi teman saya.

Alhamdulillah dia lahir langsung dalam keadaan bayi. Alhamdulillah juga dia bukan salahsatu penjual miras dan narkoba di aceh. Dia juga bukan maling, Pak. Apalagi makhluk asing atau makhluk ghaib, jelas bukan. Pokoknya percayalah, dia adalah benar-benar manusia asli seperti kita-kita, Pak. Su-eer!.

Begini Pak, Taufiq Kenny Bobo ini setiap waktu selalu ia mempromosikan Yamaha, Pak. Dia tidak mengenal waktu dan tempat. Bahkan sampai-sampai kalau mengkomen status FB orang lain dia tetap mempromosikan Yamaha meskipun komennya nggak nyambung dengan status FB-nya. Heran, saya.

Nongkrong dimanapun dia promosiin Yamaha. Nongkrong jam berapapun tetap promosiin Yamaha. Subhanallah, saya sampe muak mendengarnya, Pak. Sampai saya berpikir, kalau saja Yamaha menjadi gerakan pemberontak saya yakin dia akan tetap bergabung dengan Yamaha. Kalau saja Yamaha menjadi sebuah Salon Kecantikan saya juga sangat yakin dia tetap ikut yamaha. Kalau saja Yamaha pun membuat aliran sesat, huff, tentu bapak sudah tahu jawabannya... Namun begitulah dia dan Yamaha, Pak. Cocok sekali gitu, ecek-eceknya sejiwa.

Asal Pak Beti tahu, sebenarnya dia itu yakin bahwa urusan rejeki itu Allah yang mengatur, sehingga apa? Sehingga mudah saja dia meninggalkan Yamaha, tapi toh tidak dilakukannya. Karena bisa saja dia jadi preman, tapi dia tidak mau. Juga karena bisa saja dia jadi bencong, tapi anehnya dia juga tidak mau. Dia tetap memilih bertahan dan mengabdi di Yamaha, Pak. Mohon bapak renungi keteguhan hatinya itu.

Maka jelaslah sudah, saya sebagai Presiden Genk Motor Antar Jemput Istri (Genk Motor AJI), dan juga sebagai Imam besar seumur hidup Ikatan suami-suami Teladan se-Nusantara, dengan ini memerintahkan dan mendesak Bapak Beti agar Kenny Bobo ini lebih diperhatikan di Yamaha. Mengingat potensi dan keloyalannya yang selalu terdepan di Yamaha.

Barangkali sekian dulu saja surat perintah dari saya ini, Pak Beti. Mudah-mudahan hati pak Beti terbuka dan mau terharu ketika membaca surat perintah ini. Bahwa ternyata ada orang yang selama ini menjadi bagian penting dalam keberhasilan penjualan produk Yamaha saat ini yang Pak Beti tidak menyangkanya. Maka tataplah foto di atas sehingga oh semoga Pak beti tersadar akan kekhilafan diri bapak yang tidak tahu akan perkara ini. Terimakasih.


Salam kangen,


Affif Herman,
Dipublish ke blog 26 September 2011, Banda Aceh

Jumat, 23 September 2011

LELAKI SWISS

Setting: Lugano - Swiss

“Arrividerci, Fabrian.”

Aku melilitkan sehelai syal yang menurut orang-orang katanya berwarna merah untuk menutupi leher sesaat sebelum melangkah pergi meninggalkan Lugano Dante Hotel. Tak terasa seminggu telah berlalu sejak aku menapakkan kakiku di Zurich International Airport. Lugano mulai mendinginkan dirinya saat ini dan makanya menyuruhku untuk memakai jaket dan syal.

“Kau benar-benar akan pergi sekarang?” Tanpa kuduga, Fabrian menatapku dalam dengan bola mata birunya. Mengapa bola matanya biru? Ah aku belum sempat menanyakannya, atau jujur saja, lebih tepatnya nggak peduli.

“Iya dong, Fab. Aku harus segera ke kampus, jualan makanan ini, takut telat. Kasihan mahasiswa Swiss International University (SIU) yang mau sarapan.” kataku bikin alasan sambil membuang pandangan ke kiri-kanan untuk mencegat taksi yang beruntung dan biar kelihatan aku itu sedang buru-buru, padahal sebenarnya tidak. Tatapan Fabrian yang tidak biasa tak terlalu kupedulikan.

Melihat tingkahku, Fabrian pun menjadi sok sibuk celingak-celinguk. Ia membuang-buang pandangannya untuk membantu itu mencari taksi tanpa kupinta. Mungkin sok care kupikir. Biasalah, laki-laki kalau ada maunya ya macam si bule kampung ini, cari perhatian.

Ah, akhirnya itu, lihatlah, ada taxi yang beruntung mendapatkan aku sebagai penumpangnya. Kenapa beruntung? Yah, karena aku ini jika turun dari taksi selalu ngasih duit ke sopirnya, sehingga si-sopir sering tersenyum senang meski aku tak senang.

Dan aku pun menuju kampus SIU yang tak terlalu jauh dari Lugano Dante Hotel di kota Lugano. Seandainya saja kalian sanggup untuk berjalan kaki dari hotel ke SIU, hm… yah bakal meminum waktu sekitar 65 menitan-lah. Atau kalau mau naik sepeda paling kuat mencicipi waktu sekitar 37 menit juga akan sampai. Nah, jika naik Taxi sepertiku barangkali bakal menjilat waktu sekitar 13,7 menit-an. Aku yakin bahwa penjelasanku ini sangat jelas. Tapi sueer, bahwa aku belum tahu berapakah waktu yang harus dihabiskan jika aku ngesot ke SIU. Beneran, aku gak tau!.

Oh iya, info sedikit-lah ya. Jujur, hmm… aku ini bukannya tinggal di dalam kamar-kamar mewah hotel Lugano tadi. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku sebenarnya hanya numpang tinggal di ruang tunggunya hotel tersebut dan tanpa malu sudah kuanggap sebagai rumahku sendiri. Inilah berkat aktingku yang barangkali luar biasa, sehingga mampulah itu membuat manajer hotel terharu sehingga mengizinkanku tinggal sementara disitu. Yah, mau gimana lagi, biaya sewa kamar hotel atau apartemen disini mahal abis. Jadi ya begitulah, sekarang coba lihat sekarang aku disitu yang memasang tenda parasut berwarna merah di salah satu sudut ruang tunggu hotel. Wow.

Seminggu ini aku sedikit pusing dan sibuk untuk mengurus ini-itu untuk keperluan perizinan ini-itu untuk membuka kantin yang menjual menu khas Aceh ini-itu di kampus SIU. Rencananya aku akan menjual menu-menu seperti Gulai Asam-keu-eung, Bu Sie Itek, Gulai Kambing, Pliek-U, Mie Goreng Aceh, dan lain-lain. Termasuk juga macam-macam kue seperti Timphan, Pulut Bakar, Kue Lapeh, Boh Godok, dan lain-lainlah juga.

Nah, seminggu ini Fabrian-lah yang sering nolongin dan menjadi pemanduku di kota yang masih sangat asing bagiku ini. Awalnya kami bertemu secara kebetulan saja di lokasi pembuangan sampah di sebelah barat kota Lugano. Saat itu aku sedang tersesat dan Ia sedang melamun disitu. Dan disitulah terjadi pertemuan pertama kami. Setelah memberitahu dan mengantarku ke salah satu hotel di Lugano Fabrian menjadi sering datang berkunjung dan bertemu denganku dalam seminggu ini. Seolah dia sedang menunjukkan bahwa dirinya adalah dia sebagai lelaki yang baik-baik.

Fabrian itu anak bule sejati. Ini bisa dibuktikan dari rambutnya yang pirang, kulit merah macam kulit kerbau yang albino, badan tinggi jangkung dan sangat fasih berbicara bahasa Inggris, Jerman, Papua Nugini, Mexico, Yunani, Itali dan Tibet. Fabrian si bule pun ternyata cukup cakap berbicara dalam bahasa Indonesia, mirip burung beo yang sudah diajarin ngomong selama 17 tahun gitu. Ini berakibat aku dengan mudah bisa berkomunikasi dan menjadi lebih sedikit akrab dengannya dibandingkan dengan Obama dan bule lain di Lugano.

Pernah suatu waktu kami ngopi bareng di sebuah kafe kecil di pinggir kota Lugano. Aku iseng menanyakan dengan perasaan tidak kagum mengapa dia bisa menguasai banyak bahasa. Tapi pertanyaan itu malah membuat suasana santaiku menjadi tidak nyaman dan membosankan.

Bosan, karena ternyata itu merupakan cerita sejarah bertele-tele dan nggak penting tentang perjalanan hidupnya yang sangat panjang dan tidak berliku-liku. Aku malah menjadi sangat menyesali diri telah menanyakan hal tersebut padanya. Ah dasar Fabrian, kopi yang manis dan nikmatpun menjadi pahit rasanya.

Fabrian dengan bersemangat bercerita tanpa menghiraukanku yang mulai mual-mual karena bosan yang overdosis. Dia dengan bersemangat memulai kisah bagaimana ketika yang entah di tahun berapa dia telah dititip oleh orang tuanya ke panti anak-anak terlantar di kota Manchester, Inggris, karena orangtuanya yang kaya raya itu sibuk mengurus bisnis ini-itu. Menurut perkiraan waktu yang tidak akurat, saat itu ia masih berumur sekitar 1,75 tahunan dan ia sedang tidak lucu-lucunya karena ia memang bukan anak yang lucu. Sehingga orang tuanya tanpa berat hati menitipkannya ke panti tersebut. Oh nasib kamu Fabrian oh.

Perihal asal muasal dirinya ini terus diceritakannya selama berjam-jam. Ia berkisah bagaimana ia terus-terusan dibuang dari satu panti ke panti yang lain. Dari panti yang berada di kawasan Eropa hingga panti anak-anak terlantar yang ada di benua Amerika. Dari panti para anak yatim hingga panti pusat perbaikan mental pecandu narkoba pun sudah pernah ia tinggali.

Pernah ia bertanya kepada pihak berwenang di beberapa panti yang sempat menampungnya bahwa mengapa ia terus-terusan dipindah-pindah, bahkan menurutnya ini lebih tepat jika disebut ‘dibuang’. Dan ia mendapatkan jawaban yang nyaris sama. Bahwa ia dianggap sangat membosankan, tidak menarik untuk dipelihara. Dan Fabrian tidak syok mendengar jawaban tersebut.

Lebih dari 3 jam Fabrian masih terus bercerita. Dia adalah yang tidak peduli bahwa aku sudah menambah 3 gelas kopi, 2 gelas teh dingin dan telah menguap-nguap macam kuda nil yang diakibatkan oleh apa yang disebut dengan bosan yang mendalam. Dan akhirnya aku sadar dan mengerti mengapa ia terus saja dibuang ke berbagai Negara oleh panti-panti yang pernah menampungnya. Karena jika saja aku mampu, maka saat itu aku juga terpikir untuk segera membuangnya ke Somalia.

------------o0o--------------

Namun lihatlah, kini sudah sebulan di Lugano aku mulai mendapat masalah. Pertama, dari pihak hotel yang mulai muak dan mual denganku karena akibat menggunakan ruang tunggu hotel sehingga itu menyebabkan sofa dan karpet mereka kotor. Ditambah lagi tendaku yang merusak dekorasi ruang tunggu yang sebenarnya bergaya sangat eropa, elegan dan elit itu. Ditambah lagi mereka komplain dengan jemuran pakaianku yang sering bertengger di kamar mandi hotel tersebut.

Masalah kedua adalah, aku mulai bermasalah dengan pihak Administrasi Kependudukan Lugano karena nggak membuat KTP dan Kartu Keluarga setempat. Bahkan mereka sedikit mencurigai bahwa aku terkait dengan Organisasi Pendangkalan Budaya Lokal (OPBL) yang sedang mereka resah-risaukan. Mereka sangat kuatir makanan khas di Lugano tersingkirkan dengan masuknya makanan khas Aceh yang sedang gencar-gencarnya kupromosikan di kampus SIU.

Asosiasi Penjaga Kelestarian Kebudayaan Asli Lugano (APK2AL) yang anggotanya terdiri dari ibu-ibu PKK setempat juga mulai mencari-cari kelemahanku dan menyebarkan tuduhan macam-macam yang sangat manusiawi padaku. Kalian tahulah bagaimana kehebatan gosipnya ibu-ibu PKK yang sangat berbau intrik, tipu muslihat dan aura sirik iri dengki tersebut. Huff, Lugano menjadi semakin panas untuk kutinggali.

Masalah ketiga yang lebih parah adalah Fabrian. Iya, bule kampung itu. Beberapa puluh menit yang lalu ia melamarku dan aku mengutuk dengan keras perbuatannya itu sehingga terjadi adu mulut yang nggak penting. Kami jadi saling emosi ujung-ujungnya.

“Aku ingin menikahimu, pasti kamu kaget dan menerimaku…” katanya dengan pede saat itu. Padahal aku sedang menyuci sambil sejenak menghilangkan beban di kepala di pinggir sungai di tengah kota Lugano yang katanya romantis itu.

“Hah? Apa-apaan kamu, Fab?! Jangan main-main ah… Aku sedang malas bercanda ini.” jawabku ketus.

“Tidak main-main, jangan malas, ayo kita menikah sekarang...”

“Apaan sih, Fab, aku ini kan nggak menaruh perasaan apa-apa sama kamu. Kita ini sekedar teman saja!” sambil mengucek baju cucian dengan lebih kencang dan keras, aku mulai jengkel.

“Tapi aku menaruh perasaan apa-apa sama kamu, dan kita bukan sekedar teman saja, gitu...”

“Kita ini nggak cocok, Fab…” aku masih mencoba bersabar. Menahan diri.

“Mari kita cocokkan.”

“Aku ini beda dengan kamu, kamu bule…”

“Baiklah, aku akan operasi plastik kayak Maikel Jeksen untuk menjadi orang Indonesia”

“Aku ini benci bule, Fab.”

“Akan kubunuh semua bule…e-eh?! Eh, i-iya, akan kubunuh semua bule selain aku...”

“Aku ini ada penyakit yang kalau kumat suka makan kuping kelinci dan kuping laki-laki.”

“Iya sama, aku juga suka kuping meski kasihan si kelinci kehilangan kuping. Kita kompak dan cocok ya! Wow!”

“Aku tak mencintaimu, Fab…!”

“Maka cintailah aku.”

“Aku benci kamu.”

“Benci itu jangan, tak baik. Bencilah koruptor”

“Ah kau membuatku sakit kepala, Fab!!”

“Oleskanlah balsem panas”

“Arrrrrgghh… Plis deh, Fab!!!” Aku mulai tak tahan. Berang, sambil berdiri dan menghempaskan cucian dengan keras ke lantai. Jengkel sudah berada pada jidat. Aku berdiri di hadapannya dengan panas, sepanas bakso goreng yang baru saja digoreng dengan minyak mendidih.

“Gini Fab, aku ini sedang nyuci! Pake otak kalo mau ngelamar anak orang! Apa nggak pernah diajarin, heh?! Kau cuma nurutin moncong monyongmu saja!” Aku sudah kehabisan stok sabar, muntab menghampiri dan lupa dengan kata-kata sopan. Panas.

“Emang ngelamar anak orang gimana? Tahun lalu aku melamar anak orang di acara penguburan ibunya, eh juga kena damprat. Jadi gimana dong?”

“Aarrgghh apa ada otak Kau, Faab?!!”

“Ada.”

“Aaarggghhh…!!” Aku betul-betul mendidih, super muntab! Kutendang-tendang cucian ke sungai dengan keras saking dongkolnya. Meski setelah itu akupun buru-buru segera terjun ke dalam sungai lagi untuk mengutip baju itu agar nggak hanyut. Dan Fabrian cuma melihat santai aku yang berenang kesana-kemari mengutip pakaian tadi. Aarrgghh.

Dan akhirnya kutinggalkan Fabrian disitu sendiri. Dipinggir sungai itu, yang dia-nya saat itu sedang menunaikan hajatnya di dalam jamban dengan tentram tanpa rasa bersalah. Ingin sekali kusiram jamban yang sedang dihuni Fabrian itu dengan bensin dan segera membakarnya beserta isi didalamnya. Tapi untunglah masih ada setetes sabar didalam sanubariku yang terdangkal. Oh.

Dan kini aku telah kembali ke hotel. Aku mengambil keputusan untuk kembali ke kampung halaman saat ini juga. Aku semakin tak tahan dengan situasi yang membuat stres dan memusingkan ini. Kubereskan semua barang-barangku ke dalam koper, termasuk cucian yang masih basah tadi. Aku langsung menuju bandara. Dan pulang.


Affif Herman, 2011. Lagi dikantor, mau pulang.
Edisi Revisi, atas bantuan kepala sekolah menulis saya, bu Ade.

Rabu, 21 September 2011

Puisi bagus bikinan Gus Mus (KH. Mustofa Bisri, 1987)

"Kau Ini Bagaimana Atawa Aku Harus Bagaimana"

Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau serimpung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

Senin, 19 September 2011

Iklan Google Chrome yang bagus...

Hari Minggu, 18 September kemaren. Lagi itu saya namanya santai sama si-istri, nonton acara kulinernya Trans TV. Oh sambil ngobrol-ngobrol juga sama si-istri yang manis yang bukan bidadari itu. Iya, maklum, istri saya asli manusia, alhamdulillah. Kami ngobrol ini-itu macam-macam sambil nonton. Sambil ketawa-ketawa juga. Sambil saya rayu-rayu norak juga. Untung saja si-istri gak muntah-muntah mendengar rayuan saya itu...#hehe. Ya maklum lagi ya, namanya juga pengantin baru hampir sekitar 7 bulan jadi ya begini perangainya. Rada-rada mentel.

Konon sekonon-kononnya, selagi kami khusyuk ngeliatin si-Ari Galih lagi pamer ilmu masaknya di acara masak-masak Harmoni Alam eh datang si-iklan. Eh rupanya iklan Google Chrome. Iklan baru ini ya. Yah, yang pasti ini iklannya baru pertama kali saya itu melihat. Si-istri juga baru pertama kali lihat katanya.

Iklan itu adalah dia yang menceritakan tentang seorang ayah yang membikin sebuah akun Gmail untuk anak perempuannya. Dan Dani kusuma sang ayah itu mengabadikan dan mengirimkan setiap momen dari anak perempuannya itu yang masih kecil ke akun Gmail tadi itu dan berharap nanti suatu saat anaknya akan membacanya. Sejenak, saya menjadi dia yang terdiam melihat iklan tersebut. Si-istri juga terdiam dia. Ah, sok kompak ni si-istri.

Iklan itu bagus sekali rupanya. Menyentuh. Apalagi sewaktu ayahnya mengetik kalimat terakhir di bagian akhir iklan itu. Setelah menutup momen-momen yang dialami anak perempuannya yang masih kecil itu diakhirnya ia nulis begini kira-kira, “Dani Kusuma, Ayah”. Gila, saya merasakan betul ‘feel’ di kata “ayah” itu. Bikin merinding. Mantraaappp!

Sedetik iklan itu habis, spontan saya dan si-istri yang baik itu sepakat bilang bahwa itu iklan bagus sekali. Kami senyum-senyum senang dengan iklan begitu. Dan saya saat itu menjadi dia yang dalam hati teringat Ayah saya. Dan saya menjadi didatangi itu yang namanya rindu. Dan saya menjadi bersedih hati. Karena saya menjadi dia yang tak mungkin bertemu meski sedang rindu sekali pada satu-satunya lelaki yang saya panggil Ayah itu.

Affif, Banda Aceh, 18 September 2011
Sedang malam, sedang teringat Ayah.

Senin, 05 September 2011

Episode Muhammad Ahlan (Bab: kawan-kawan yang berpengaruh terhadap saya itu...)

3. Muhammad Ahlan a.k.a Ahlan, yang mempengaruhi saya untuk nggak nyontek kalau ujian.

Lihatlah langit. Biru sekali dia ya. Iya. Saat itu dialah yang sedang bermain bersama awan-awan. Bersama burung-burung juga. Bersama angin-angin sepoi juga. Mudah-mudahan mereka senang, insya Allah. Eh, tak lupa mataharipun sedang ikutkan dirinya bersenang bersama mereka, cerah. Ceria juga. Sehingga maunya dengan begitu biar dibilang bahwa hari ini adalah indah.

Coba lihat pula itu ikan-ikan di sungai, di laut juga, di danau juga, di air terjun juga, di selokan-selokan juga, setiap hari ada saja yang menangkap mereka. Aneh. Padahal mereka bisa saja kabur berenang di lautan yang luas, atau bersembunyi diantara karang bebatuan, namun mereka tak mau. Mereka sengaja berenang di permukaan, sehingga mudah kelihatan dan tertangkap. Mereka sengaja juga agar mudah terpancing. Oh mereka bilang mudah-mudahan dengan begitu si-penangkapnya bisa dirinya bersyukur karena mendapati diri mereka yang sedap jika dimasak, apalagi dipanggang. Itu ikan, sekarang lihat itu daun. Lihat itu pohon-pohon. Lihat itu juga burung-burung. Lihat itu biawak di selokan. Lihat-lihatlah. Oh bumi, se-begitu bagusnya kamu ini dibikin Allah. Subhanallah.

Dan lihat, itulah juga saya dan kawan-kawan sedang melaksanakan ritual sakral semesteran, ‘final’ alias ujian akhir semester. Lupalah saya pada semester berapa kisah ini terjadi. Yang pasti saat itu bumi masih berputar. Yang pasti malam dan siang juga masih saling berbagi untuk bergantian. Yang pasti para tumbuhan masih berfotosintesis. Yang pasti juga saat itu malaikat yang ada di kanan-kiri masih terus saja mencatat amal baik dan buruk setiap anak manusia. Oh begitulah.

Maka ketika saya bernafas memakai hidung, saat itu-lah juga di ruang kelas yang tidak mencekam saya dan kawan-kawan duduk di kursi bukan di meja. Duduk rapi. Kami bersiap menemui beberapa soal dari mata kuliah Mekanika Tanah. Semua manusia yang di dalam ruangan saya lihat begitu antusias dan bersemangat menghadapi ujian ini. Seolah-olah kalau ujian ini berhasil mereka bakal masuk surga. Biasa aja-lah. Saya saja, kalau saya mau, bisa saja saya buka baju dan meninggalkan kelas, tidak mengikuti ujian ini. Tapi herannya saya gak mau berbuat begitu.

Dan tepat-lah di belakang saya dia duduk disitu, tengoklah, yaitu seorang anak manusia. Bukan anak Jin–Alhamdulillah-. Karena kalau dia anak jin pasti nggak perlu ikut ujian final, kan? Maka adalah dia itu yang bernama Ahlan. KTP lengkap menyebutnya dengan Muhammad Ahlan. Seorang anak dosen senior di Fakultas Teknik. Yang baik perangainya. Yang rajin dan tekun orangnya. Yang terjaga shalat shubuh berjamaahnya. Yang dia telah menjadi juga salah seorang ketua bidang di salahsatu organisasi di Fakultas Teknik yang sedang saya Imami saat itu.

Saat itu, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa ketika final sedang berlangsung pasti si-pengawas ujian sedang bernafas. Saya juga yakin semua peserta ujian final di dalam ruangan juga sedang bernafas. Ya, saya yakin sekali itu, insyaAllah. Penjelasan saya ini semoga menentramkan hati kalian yang barangkali sedang bertanya apakah kami masih bernafas ketika ikut ujian final itu? Maka jawabannya; iya, sesungguhnya kami semua sedang bernafas saat itu! Puas?!! #mohon abaikan paragraf ini…hehe

Ketika ujian berlangsung waktu semakin menunjukkan bahwa dia itu adalah cuek. Sombong sekali, ia terus berjalan tak peduli. Sehingga tanpa terasa 3600 detik lebih telah berlalu meninggalkan kami. Entah siapa yang menghitungnya. Pasti si-Jam yang bertengger di dinding kelas kami itu yang punya kerjaan! Dasar Jam, kerjaannya ngitung waktu terus! tak bisakah ia istirahat sejenak atau ngerjain kegiatan positif yang lain?! Huff…

Melihat waktu yang semakin menipis sebagai ketua yang baik maka saya bikin diri saya peduli kepada kondisi Ahlan di belakang saya itu. Kepedulian kepada sesama tentulah baik, apalagi peduli kepada kawan yang sedang dilanda ujian final begini. Apalagi Ahlan adalah anggota saya, wajar jika saya membantu, tentu dia akan kagum dengan kedermawanan saya. Ya, saya rasa demikian. Hehe.

“Gimana, Lan? Nomor sekian dan sekian udah?” Saya berbisik. Tidak mungkin saya teriak.

“ Belum, Fif” Ahlan ikut-ikutan berbisik. Ah, dasar Ahlan, gak kreatif!

“Oh, ane udah ni…ente lihat lembar jawaban ane aja. Bisa lihat, kan?” Berbisik sambil tetap waspada. Satu ekor mata berkomunikasi ke Ahlan di belakang dan yang satu lagi waspada was-was mengecek aktifitas pengawas ujian di depan. Aman.

“Gak apa, fif, ane kerjakan yang lain dulu”

“Ok, ntar klo udah masuk ke soal yang ini ente bilang sama ane ya…”

“ ….” .Ahlan cuma mengangguk tanpa suara. Karena ‘mengangguk’ memang tak butuh suara.

Kami pun kembali khusyuk menatap dan berkomunikasi dengan soal-soal ujian. Dan waktu lagi-lagi dia berlalu sok tak peduli. Ecek-eceknya dia sombong sekali begitu. Sehingga tinggallah waktu sekitar 10 menitan terakhir. Dialog saya dan Ahlan seperti diatas kembali berulang dengan redaksi yang hampir sama. Sikap Ahlan masih rada-rada sama. Ia tetap saja memberi sikap ngambang dan tidak konkrit, berkilah bahwa dia masih sedang mengerjakan soal yang lain. Saya heran dan mengkuatirkannya, karena waktu yang semakin menipis. Tapi oke-lah, semoga masih ada waktu.

Dan ketika kami masih asik bernafas maka tibalah saat itu, saat yang katanya waktu ujian sudah habis. Ahlan dan saya mengumpulkan lembaran jawaban kepada pengawas yang katanya ketat, padahal nggak. Sambil kami bikin badan kami keluar dari ruangan ujian melalui pintu, maka sesungguhnya bertanyalah saya padanya. Iya, kepada Ahlan.

“Gimana tadi nomor ini dan itu, siap?”

“ Gak, fif...” Ahlan menjawab dengan tenang dan senyum. Ahlan memang selalu begitu dia. Tenang-tenang saja selalu.

“Hah?! Gak siap?! Kok gak ente bilang, kan bisa liat jawaban ane, minimal liat rumusnya aja.”

“Nggak apa-apa…” Ahlan senyum-senyum ramah macam gadis penjaga kasir di supermarket.

“Jadi gimana dong soal nomor itu tadi?”

“Gak ada, fif...”

“Kosong jadi? Gak ente isi?!” saya menahan diri dari kaget dan tidak naik pikir.

“He…he...he…” mengangguk malu-malu, seolah-olah dia adalah perawan yang saya sedang mencoba melamarnya. Dan hari itupun selesai dengan saya yang masih terheran dengan perilaku Ahlan.

***

Di ujian-ujian berikutnya saya menjadilah dia yang penasaran, yang memperhatikan dia. Saya lihatlah dia yang di setiap ujian ternyata memang adalah dia yang selalu berusaha sendiri. Tidak dia bikin dirinya meminta bantuan ke kanan-kiri atau ke depan-belakang seperti lazimnya yang telah itu diperbuat oleh masyarakat yang dilanda ujian. Ahlan tetaplah dia yang kosongkan lembaran jawabannya ketika tidak bisa dia menjawab suatu soal. Dia tetap santai dan ringan saja begitu. Tidak dia tampilkan mukanya gundah kuatir jika tidak bisa mengisi lembar jawaban. Wow. Oh dia sudah berada pada kualitas manusia yang sudah bisa menghargai dirinya sendiri apa adanya. Meski apapun yang terjadi. Ia sudah tidak memandang nilai ujian diatas kertas itu sebagai penentu kemuliaannya. Toh buat apa nilai A jika ternyata didapat dengan jalan yang kotor dan rendah. Wow wow wow ini manusia levelnya sudah tinggi.

Aih Ahlan, tahukah kamu apa yang saya pikir saat itu? Saya menjadilah dia yang diam-diam heran dan kagum. Juga diam-diam iri. Di dunia yang ‘aji mumpung’ begini kamu masih berlaku seolah-olah dunia ini masih bermukjizat. Dunia yang segala sisinya sedang dibangun dengan ketidakjujuran begini kamu masih berlaku lurus seolah kamu itu masih di jaman Nabi. Oh.

Menjadilah saya itu yang diam-diam berpikir terus dalam malam-malam ke depan. Mengapakah kamu bisa begitu saya tidak, wahai Ahlan? Tak takutkah kamu nilai IPK yang rendah? Tak takutkah kamu untuk mengulang lagi Mata kuliah itu tahun depan? Tak berpikirankah kamu akan cibiran manusia lain sebagai seorang anak dosen senior di Teknik Sipil namun bernilai rendah? Ow ow ow, kamu membikin saya heran Ahlan, ah iya lebih tepatnya, iri.

Begitulah, saya akhirnya ditantang oleh diri sendiri. Saya menjadi dia yang begitu kagum dan iri dengan siapa itu tadi… iya, Ahlan. Setelah iri itu membuat jatuhlah saya ke dalam perenungan-perenungan diri. Sehingga berkeputusanlah saya bikin diri bahwa mau tidak mau saya harus meniru itu sikap Ahlan. Apapun itu yang dibilang orang sebagai konsekuensi, harus berani dihadapi.

Dan, Alhamdulillah. Ternyata memang menyenangkan. Meski awalnya saya menjadi dia yang kewalahan ketika ujian. Dan juga menjadi dia yang dipandang ‘sombong’ akibat diri yang tidak mengekspor dan mengimpor jawaban ke “negara-negara tetangga”. Namun akhirnya semua itu berjalan baik-baik saja. Tak ada takut meski harus mengulang mata kuliah. Tak ada itu sesal lagi meski nilai rendah setelah usaha maksimal. Oh meski ini hanya hal kecil, namun jujur itu ternyata memang bagus sekali untuk hidup. 

* Ah, Terimalah kasih, wahai Ahlan, semoga kamu diberkahi Allah. Aamiin77x…




Affif Herman, ST
Presiden dan Imam Besar Genk Motor Antar Jemput Istri (Genk Motor AJI)
Banda Aceh, 22 Juni 2011, sedang tengah malam.