Minggu, 10 April 2011

Istri, Penjelasan Ini-itu...

Kamu, iya kamu, yang dipanggil-panggil Muna itu. Dari sekian godaanku, belum pernah aku menggunakan panggilan ‘bidadari’ kepadamu kan? Iya kan? Kan? Iya, memang aku ini bikin sengaja seperti itu. Sengaja memang begitu aku ini kepadamu. Mudah-mudahan kamu tidak minder hati, tidak hilangkan senyum senang, tidak juga berniat hati melompat dari jembatan Lamnyong untuk mandi sebagai bentuk protas-protes padaku. Oh mudah-mudahan tidak.

Oh bukannya aku tak mau bikin rayu begitu-begitu. Bukan oh bukan begitu Muna. Bukan juga aku tak bisa bikin rayu-rayu karena kamu tahu aku bisa bikin banyak rayu-rayu norak. Bahkan dulu itu ketika aku minta kamu sama Allah, Rabb kita Yang Maha Penyayang itu, di bumi ini aku tak meminta untuk menikah dengan bidadari yang terkenal dengan cantiknya yang sempurna itu, tidak. Aku meminta menikahi manusia sepertiku yang berwujud perempuan bukan laki-laki, yang hidup berjuang mempertahankan iman yang lemah begini, yang juga mencita-citakan kehidupan akhirat yang baik, yang berusaha mendirikan shalat, yang juga bisa tidur kalau ngantuk, yang tidak bisa melihat matahari di malam hari, yang bisa ketawa-ketawa juga, yang bisa menangis juga, juga yang bisa makan yang pedas ini-itu, dan lain-lain begini-begitu.

Oh Muna. Iya, kamu, yang bernama lengkap Munawwarah itu. Begini, konon suamimu, iya aku, berpikir-pikir tak merayu kamu seperti itu karena tak ingin memberatkan perasaanmu saja. Karena apa? Oh karena oh kamu apapun itu adalah manusia bukan bidadari. Sehingga nanti dalam perjalanan hubungan kita ini kamu marah boleh, sakit hati boleh, boleh tak suka, boleh capek, boleh menangis mengadu, sakit boleh, boleh cemburu, boleh salah, rindu boleh, bosan boleh, baik juga boleh, boleh ketawa, dan juga boleh senyum-senyum biar manis. Kamu bukan bidadari dan tak perlu memaksa diri menjadi bidadari yang terlepas dari sifat-sifat manusiawi tadi. Sehingga apa? Sehingga kamu bebas suka-suka menggunakan perasaaanmu secara manusiawi, dan mohonkan saja doa kepada Allah agar aku ditolong bisa selalu bersyukur dan bersabar untuk semua itu ya Muna.

Eh tahukah kamu, setahu-tahu suamimu yang berilmu sangat sedikit tahu ini bahwa Nabi kita pun tak pernah rasanya memanggil istri-istrinya dengan sebutan ‘bidadari’. Mengapa begitu? Oh aku tak tahu mengapa, namun jika-lah ada riwayat dari Nabi yang sampai padaku maka tak perlu kamu minta-minta, maka aku akan bikin rayu rayu kamu dengan kata ‘bidadari’ itu berapa kalipun kamu mau. Oh begitulah.

Ah Ingat-kan kamu, ketika ‘Aisyah cemburu besar dan melemparkan sepiring makanan di depan Nabi dan sahabat-sahabatnya? Atau ingatkah bagaimana Umar bin Khattab dimarahi berat oleh istrinya dan Umar malah tak marah sedikitpun, atau masih ingatkah Fathimatuz Zahra yang mengadu kepada Nabi akibat kelelahan bekerja melayani suami dan anak-anaknya? Lagi, bukankah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal itu juga pernah bertengkar hebat dengan istri tercintanya akibat masalah harta istrinya sesaat setelah Umar diangkat menjadi khalifah? Dan bukankah itu pertanda bahwa mereka-bahkan istri seorang Rasul- juga manusia biasa yang kadang tidak bisa mengendalikan perasaan cemburu, marah atau lelahnya? Mereka bukan bidadari kan? Kan? Iya, memang bukan.

Dan jika saja kamu ‘bidadari’ maka sesungguhnya kamu telah akan sangat meminderkan suamimu ini. Karena apa? Karena suamimu, iya, aku ini, bukan orang yang hidup tanpa cela. Bukan lelaki tegar beriman kuat yang seperti di cerita novel-novel relijius fiktif yang sering kita baca-baca. Jika saja kamu ‘bidadari’ tentu kamu tahu bagaimana perasaanku yang lelaki biasa beriman rapuh ini seolah merasa kecil hati dan dipandang tak sekufu denganmu yang bidadari. Sungguh juga tak enak membawamu makan rujak buah, makan mie pangsit atau makan nasi gurih di kaki lima sambil ketawa-ketawi menikmati hidup sambil lihatin langit yang bagus itu. Dan juga akan aneh sekali jika ada bidadari makannya di warung kaki lima, padahal bukankah bidadari itu di surga tapi ini kok malah terdampar di bumi.…hehe.

Hmm…trus, jikapun kamu kupanggil ‘bidadari’ malah seolah-olah bisa juga suamimu, iya, aku ini, seolah menjadi merendahkan atau meremehkan kamu pula. Karena Nabi kita bilang bahwa wanita-wanita di bumi itu jauh lebih utama dari bidadari yang bermata jeli, kan? Kan? Yang di-akibatkan karena mereka menegakkan shalat, melaksanakan puasa dan ibadah kepada Allah, sehingga Allah letakkan cahaya pada wajah mereka (1). Ah tak terbayang hancurnya hatimu jika kamu cukup kupanggil sebatas ‘bidadari’ padahal sedangkan kamu bisa menjadi lebih utama dari ‘bidadari’ itu, iya kan? Kan? InsyaAllah iya.

Hm...yah, demikian saja-lah ya, wahai kamu seorang muslimah, istri dari seorang lelaki yang tak seberapalahmana ini. Segala puji hanya untuk Allah, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pengasih itu. Berbicara tentangmu adalah berbicara tentang Kekuasaan, Kasihsayang dan Kemahapemurahan Allah. Yang telah menjadikan kamu melalui orangtuamu, Yang menjadikan bumi sebagai tempat kita bertemu sambil berpijak beratap langit yang bagus sekali itu, dan yang telah menjadikan kamu sebagai tempat terbaik untuk kujatuhi hati dengan benar. Oh Alhamdulillah.

Dan karena aku adalah manusia yang setiap hari menjadi tempat salah dan lupa maka mohon kamu bersabarlah. Sehingga berharap aku ini kebaikan dan kemuliaan yang besar dari Allah untukmu di suatu hari nanti, ditempat dimana kemenangan yang besar itu diperlihatkan…aamiin.

Jika,

Jika saja engkau melihat aku sekarang disini,

Sedang menuliskan ini untukmu,

Ah lihatlah itu aku yang sedang merasa seakan-akan hanya aku saja di bumi,

Yang lagi senang karena engkau,

Ya, yang sedang senang sekali…




Gp. Pineung-Meulaboh, Maret-April 2011
Affif Herman bin Herman Hanif bin Hanifuddin Ali



(1) Dari Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist yang panjang,
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, yang bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar