Rabu, 15 Desember 2010

Merameeeet!!!

Hehe..lama tak bertegur-sapa kita ya, maklum aku lagi sok sibuk dikit ni. Inipun maksain diri untuk ngomel-ngomel biar kalian nggak kuatir dan bisa tentram. Oke, langsung aja ya, karena aku yakin kamu udah nggak bisa membendung rindu untuk segera mencelaku,..hehe.

Kemaren Alhamdulillah, setelah menjemput rejeki dari Allah di beberapa Kabupaten/Kota aku bisa-lah pulang istirahat ke Koeta Batee alias Blangpidie di Kabupaten Ksatria (nama Kabupaten Abdya jaman dulu) untuk ketemu adik-adik dan Ibundaku seorang.

Selain silaturrahim dengan kawan-kawan lama, badan dan hatiku kubawa jalan-jalan, menikmati apa-apa yang ingin kucoba untuk mengulang manisnya masa-masa muda dulu. Nah, salah satu yang sempat kulakukan kemaren adalah merameeeeettt!!(pake gaya power rangers)…=D

Meramet itu bahasa aceh, cuma sengaja kubuat keren biar gaul gitu..hehe. Apakah meramet itu anak-anak?Baiklah anak-anak, Meramet adalah istilah atau nama atau sebutan atau panggilan yang digunakan oleh orang dikampung kawan-kawanku di Desa Suak untuk pekerjaan menangkap Kire. Apakah Kire itu anak-anak? Kire adalah makhluk yang tidak mati yang jika demikian disebut makhluk hidup sehingga ia disebut Belut dalam bahasa Indonesia Raya. Maka Kire = belut. Mengertikah engkau kini anak-anak? Bagus.

Ntar aku akan bercerita dengan poto-poto yang sempat terambil. Sebenarnya agak susah mengambil poto sambil bergaya ketika kita sedang meramet, karena bisa membuat belut-belut lari. Mereka sensitif terhadap cahaya alias sedikit anti-popularitas atau barangkali pemalu gitu. Padahal kudengar-dengar gizi mereka sangat tinggi, cuma mereka sepertinya nggak mau pamer saja. Rendah hati ecek-eceknya. Oh alangkah mulianya engkau wahai belut.

Maka ketika meramet kita cuma bisa duduk dalam kelamnya malam di dalam semak-semak sambil bercengkrama hangat dengan nyamuk-nyamuk genit. Syukur-syukur jika tuan dan puan ular serta biawak tak datang berkunjung untuk menyapa hangat.
Dibawah ini kuhidangkan poto-poto detik-detik menegangkan ketika meramet. Semoga engkau terharu..hehe.

poto A:






Beginilah persiapan meramet. Pancingannya boleh dari batang bambu atau batang toge, dan umpannya adalah cacing yang dililitkan pada benang jahit. Ingat, cacingnya jangan di tumis atau di gulai, cukup cacing segar saja, jangan kamu sok-sok kreatif.
Pakailah pakaian yang tidak pantas disebut putih dan bersih, dan jangan sesekali memakai pakaian kantor, pake jas dan dasi, apalagi pake parfum! Dan yang lebih pantang jangan sampe nggak pake pakaian!!. Sebelum pergi minta ijin dulu ke ayah-bunda.

Kalo kamu tipe lebai yang suka pamer-pamer semua aktifitas di status fesbuk maka sebelum berangkat langsung apdet status fesbuk, misalnya, “Pergi Meramet, doakan saya ya” atau ”lagi meramet, jadi kangen kamu… “….*hehe hancooorr.

Jangan lupa baca Bismillah. Trus dengan hati yang yakin segera masuk ke kebun dan sawah-sawah orang untuk menuju sumber-sumber air atau sungai–sungai kecil dimana belut-belut sedang mejeng. Oh sungguh gaul belut sekarang.

Catatan penting, belut itu keluar dari apartemen dan kost-kostsannya diantara waktu azan magrib hingga waktu isya, atau paling maksimal hingga pukul 9 malam. Diatas waktu isya maka belut amat susah digoda meski dengan cacing berkualitas Eropa sekalipun. Jadi, jika kau ingin meramet maka usahakan shalat magrib di mesjid yang terdekat dengan lokasi meramet, agar tidak buang-buang waktu di dalam perjalanan.

Gambar B:




Tata cara meramet. Duduklah dengan tenang, tangan kiri memegang empang/goni/ ember/atau apalah namanya. Tangan kanan memegang pancing dengan lembut-gemulai. Pancing ini tidak memliliki mata kail, cacing yang utuh hanya dimasukkan ke dalam benang. Kedua ujung benang di ikat ke ujung kayu pancingan, sehingga bentuknya kira-kira seperti kalung yang berhiaskan badan cacing.

Belut akan akan tergoda dengan aroma cacing segar dan menggigit umpan dengan pelan-pelan. Ketika kita merasakan getaran lembut gigitannya kitapun mengangkat pancing juga dengan sangat pelan dan lembut. Belutpun tanpa sadar ikut terangkat. Sedikit saja ada sentakan maka belut akan lepas. Ini perkerjaan berseni tinggi dan sangat bermain perasaan.

Makanya ketika kau merasakan adanya getaran di tangan kanan maka tangan kirimu pelan-pelan langsung menyambut belut dari pancingan tangan kanan yang sedang diangkat dengan sangat pelan.

Sori jika poto-poto sesi ini sedikit, karena memang nggak boleh banyak berpose, eh, maksudku nggak boleh ada cahaya sedikitpun disini. Apalagi untuk melihat bagaimana si-belut diangkat ke atas, itu nggak mungkin. Tapi poto diatas minimal cukup memberikan bantuan untuk imajinasimu sehingga bisa menggambarkan posisi yang afdol ketika Meramet. Bersyukurlah engkau nak.

Ingat, ini semua terjadi dalam gelap gulita tanpa bisa melihat apapun, kita cuma mengandalkan perasaan saja. Huff,…hehe seru-seru menegangkan. Percaya-lah padaku sensasi getaran ketika belut menggigit pancingmu terasa hingga ke hati, seru!.

Next, Poto C:






Inilah beberapa jiwa belut yang dapat kami jemput dari kediamannya. Dalam keadaan yang masih segar itu para belut segera kami beri tindakan “tegas” demi terciptanya kedamaian. Darah itu merah jenderal Belut!! Bismillah.

Oya, belut ini meski berbadan sebesar jempol tapi bertenaga sangat kuat. Beliau juga memanfaatkan lendir dibadannya untuk kabur dari genggaman kita. Jangan sesekali kau memandang sebelah mata power si-belut. Maka salah satu tips untuk melemahkan tenaganya adalah dengan membalut dan menggosok-gosok di belut dengan batang dan daun Talas (Keladi). Ini memang tips dari orang kampung, namun tips ini berkerja sangat baik. Entah kenapa para belut menjadi lemah jika diberikan daun dan batang talas?entahlah, aku lupa menginterogasi belut-belut itu, mungkin lain kali.


oke, poto-poto nggak gaul D: next...







inilah cara alternatif cerdas untuk menghidupkan api kompor jika tak punya korek atau bom. Caranya mudah, ambil raket listrik yang digunakan untuk memanggang nyamuk-nyamuk yang manja dan sok akrab, trus ambil koran bekas atau daun pisang kering. Lalu,..kamu bisa lihat sendiri di poto kan. *trust me, it works!..hehe.

O-iya, yang berkaos coklat itu ketika lahir ia langsung dalam keadaan bayi dan diberi nama panggilan Jol. Beliau-lah pakar meramet yang mengajari dan membimbing kami ke markas-markas belut di kampungnya. Jol telah Meramet sejak kecil. Dia telah meramet dalam kondisi malam yang berhujan maupun malam yang tenang berbintang. Aku serius tak main-main. Jol dan meramet bak rembulan yang dibelah dua.

Jol juga begitu mengenal dimana lokasi-lokasi dan waktu yang tepat untuk meramet. Aku bahkan sempat berpikir apakah Jol merupakan manusia titisan pangeran belut yang turun ke bumi untuk mencari putri belut yang kabur akibat ingin di jodohkan dengan pangeran Mujahir oleh ortunya?Atau apakah ia Duta belut se-dunia? Wallahu’alam, yang pasti ia sangat lihai dalam hal ini. Dan aku juga kuatir akibat ulahnya yang sering menjebak belut menyebabkan ia telah sangat dikenal dan menjadi musuh nomor 1 di negara Republik Belut Raya.

Dan yang memegang raket nyamuk diatas dikenal sebagai Oden, mahasiswa ekonomi dan politikus muda yang pakar dalam hal bumbu-bumbu masakan. Urusan bumbu serahkan padanya, kau tak akan dibuatnya kecewa. Dalam hal bumbu-membumbu Oden-lah bintang gemintangnya. Ia-lah rujukan hati. Penentram lidah.

poto-poto gile E:,..







Hmm,..ini sesi seni dalam makan. Seni memasak dan memberikan belut akan rasa!! Wow!

poto2 F:





Hehe…ini sesi bergaya selagi menunggu gulai belut bumbu bebek rasa spesial matang. Sekedar info nggak penting, lokasi pondok ini di Kuta Tinggi di kampung Ayahku. Dan ini di pondok kolam ikan adikku. Poto ini diambil secara LIVE tanpa ada rekayasa dan make-up sebelumnya, sehingga kau akan mendapatkan suasana yang sangat natural dan asli tanpa editan kamera…hehe.

poto G::nexxtt...






Hooree,..masakan siaaapp!!hm…hehe no komen, kalian lihat-lihat aja-lah.

poooto H,..











Hehe,..nggak usah dijelasin lagi ya, kalian pasti udah tau gambar-gambar diatas lagi ngapain, ..hohoho.. hmm…laaazzziiisss, onde mande denden plik-u!!

oke de last poto:


Meramet diakhiri dengan bincang-bincang cabub-cawabub, tentang akhirat, perjodohan, perkuliahan, memori masa SMA, adu pantun dan rencana-rencana masa depan.

Hehe jujur, sebenarnya aku tak bisa menggambarkan bagaimana seru dan hangatnya kisah ini kepada kamu-kamu-kamu (pake gaya Charlie ST12). Yah, ini salah satu pertemuan dimana -aku atau kamu barangkali- tak kuatir tertawa jika ingin tertawa, bisa senyum-senyum dan mendengar tanpa berharap kepentingan apa-apa, bisa kritik-mengkritik sambil senyum-senyum, curhat tanpa ada beban, tak ada yang sok-sok jaga imej, atau sok merasa orang “gede”. Eh, sebenarnya omongan ini mulai agak melenceng sih, tapi nggak apalah, kan aku yang punya blog gratis ini,..hehe.

Rencananya pada minggu depannya agenda kami mau berburu sejenis rusa dan burung sambil menginap di gunung, namun belum tercapai asbab pada hari kamisnya aku tiba-tiba harus kembali ke Banda Aceh. Tapi klo ntar aku balik pulang ke rumah Ibundaku dan ada waktu berburu, insyaAllah akan kubualkan lagi untuk kamu-kamu-kamu…hehe. Udah dulu yo….salam Rinso.

Kajhu-Ulee Kareng/ 08 Muharram 1432 H-14 December 2010

Affif Herman bin Herman Hanif bin Hanifuddin Ali bin Teuku Muhammad Ali bin Teuku Muhammad Din bin Teuku Lon bin Teuku Lampou-u bin Teuku Bentara Balee bin Teuku Bentara Sumbrang.

5 komentar:

  1. mau nanya nih *setelah menyimak dengan baik dan penuh takzim*. pada foto yang ada tampilan ttg menyalakan api tanpa korek api, dan bantuan matahari tapi dengan menggunakan raket pemukul nyamuk, itu caranya seperti apa? iya ada ditampilin difoto cuma ga jelas *apa saya y bego ya ga ngerti*. nah klu menurut y saya pahami dari gambar tsb, pertama raketnya dihidupin dantekantombol u mengatifkan raket tsb, nah kemudian daun pisang kering diletakkan dibawah raket tsb kan, trus yang nampak seperti diolesin di pinggiran raket itu apa? apakah lensa y dipakai sperti percobaan waktu pelajaran IPA di SD? atau cem mana caranya? kan disamping y megang raket ada y seperti melakukan ritual sperti menuangi sesuatu di pinggiran raket...mohon penjelasannya yak. terimakasih

    BalasHapus
  2. wess...sx pulang kampong...bin ketemu 3 lagi...mantap...rinso tak pernah lebih baik..salam daia..!!

    BalasHapus
  3. dolphin:,.hehehe,..iya, raketnya dihidupin trus ambil kertas koran dan di didekat2in dgn raket yg sedang menyala,..eh, jadi deh,..

    pekerjaan ini bisa dilakukan sendiri atau berdua sperti gbr diatas,..keren kan??hehe..slamat mncoba...=))

    BalasHapus
  4. richi:..haha iya, saia jumpai lagi kakek dan terus menerus bertanya jejak asal keturunan yah alhmdulillah dapat lagi,..hehe macam perawi hadits gitu-lah,..

    fahri:,..hehehe mari2 bergabung di meramet episode selanjutnya,...=))

    BalasHapus