Senin, 26 April 2010

Mie Putih Blangpidie: sebuah sudut pandang sosial yang liar tak bertanggung jawab,..

Mie Putih Blangpidie: sebuah sudut pandang sosial yang liar tak bertanggung jawab,..

Seperti hari-hari biasanya, bada shalat shubuh, kota yang baratnya berciuman dengan Samudera Hindia ini kembali memulai geliat aktifitas kesibukannya sebagai kota dagang. Riuh ramai tawar menawar harga barang berteman dengan dingin dan gelapnya pagi. Dingin memang, karena ia dipeluk oleh gugusan pegunungan Bukit Barisan disebelah timurnya. Maka perpaduan dari birunya Samudera dan hijaunya pegunungan tadi pastilah menghasilkan bentuk dan suasana kota yang tak kepalang memabukkan, indah bukan buatan, karena memang ini 100 persen urusan Tuhan. Sangat eksotis. Tak terbantah.

Sibuk, yah, memang sudah menjadi tanggung jawab moralnya sebagai kota agar ia keliatan ramai dan sibuk. Disini si-Blangpidie mempertaruhkan harga dirinya yang dikenal sebagai kota dagang yang disegani di wilayah Pantai Barat, pastilah ini pertaruhan hidup matinya sebagai kota. Ia sangat serius dalam kesibukan dan tak ingin diganggu. Maaf kawan, ia memang sedikit sombong tapi cukup elegan dan mengesankan.

Kesibukan pada setiap shubuh terutama berpusat di pasar tradisional Blangpidie di sepanjang jalan Haji Ilyas. Jalan yang lumayan lebar ini pun sejak shubuh buta harus menerima beban ratusan manusia yang lalu-lalang berdesak-desakan menjajakan dagangannya, terutama para penjual sayur mayur dan sejenisnya, mungkin di kesempatan yang lain akan aku ceritakan nikmatnya sayur-mayur di Blangpidie tentunya dengan harga yang sangat miring, pastilah ini menjadi pujaan para kaum hawa. Aku mencoba mnggambarkan keramaian di Jl. H. Ilyas ini memakai istilah semi-macet dengan kecepatan dibawah 8 km/jam plus jarak pandang 7,34 meter saja. Dimana sepeda motor harus ditolong dan di dorong dengan kedua kaki ditambah klakson yg harus meraung-meraung nyaring berulang setiap 3 detik. Sangat ironis memang, menegangkan, tapi juga mengasyikkan.

Kawan, urusan shoping-shoping tadi itu sebagian besar merupakan urusan para pemilik “Rumah Tangga” yang harus buru-buru mempersiapkan sarapan untuk anak-anak mereka yang akan berangkat ke sekolah-sekolah pemerintah agar “menjadi orang” di kemudian hari, meskipun tafsir “menjadi orang” tadi masih sangat menggelikan bagiku. Kali ini aku sebenarnya ingin memberikan bocoran sebuah anugerah Tuhan yang diberikan kepada akal manusia sehingga ia kreatif mengkombinasikan, meracik, dan menemukan sesuatu sehingga bisa dinikmati oleh orang lain. Tentunya kau sudah tahu jawabannya karena sudah kubocorkan dengan judul tulisan di atas, aku harap kau berterimakasih dan menunjukkan wajah penyesalanmu padaku, kawan. Ya, ia adalah mie Putih Blangpidie. Lalu apa hubungannya dengan suasana shubuh tadi?tenang, kawan. Di separuh jl. H. Ilyas ditengah keramaian metropolitan dan sibuknya Nyak-nyak penjual sayur itu dalam meniti karier tadi terdapat satu warung yang menurut pengamatanku paling cepat menjual Mie Putih, barangkali paling cepat se-Aceh, ah tidak, barangkali se-Dunia kawan. Nah, bagi kalian yang tergesa-gesa atau kebetulan singgah setelah shubuh di Blangpidie maka ini adalah info yang tidak akan kalian dapatkan dari siapapun, kalian bisa mencicipi hangat dan lembutnya mie putih ditengah dinginnya pagi, sungguh tak terkata rasanya kawan. Sangat nikmat. Inilah salahsatu anugerah Tuhan, bersyukurlah.

Mie putih konon dahulu kala dibawa oleh nenek monyang etnis Chinese (baca; chainis). Di KTP mie putih tertulis nama sebenarnya yaitu KweTiauw, entah karena sok tau atau kesurupan, etnis Bangpidie yang merupakan campuran dari berbagai kaum ini biasa memanggil KweTiauw dengan Mie Putih. Sungguh sebuah panggilan yang tidak beradab. Ketika kapitalis-kapitalis kecil bangsa Chinese ini protes atas hal tersebut salah satu pribumi Blangpidie menjawab dengan santai dan diplomatis,” kong, pernahkah mata sipitmu ciptaan Tuhan itu membaca buku Shakespear yang terkenal itu?” entah darimana si-pribumi mendapatkan nama itu. Tapi jelas, orang chinese perantauan yang di otaknya cuma dagang dan uang ini belum pernah mendengarnya. Mereka menggeleng tak tahu. Melihat peluang untuk membodohi si-Chinese ini ada, ia makin berlagak,”kong, perhatikan ucapan orang pintar dari daratan eropa ini, ia berwasiat bahwa,” apalah arti sebuah nama”. Maksudnya, nama itu bisa berganti-ganti sesuai kondisi cuaca dan demografi suatu daerah kong.’ Jelas, bahwa si-Blangpidie ini sedang ngawur dan dengan arogan menafsirkan maksud si-Shakespear. Kasihan Shakespear.

“Aristoles dan Plato pun berkata demikian kong”, si-Blangpidie dengan tak berperasaan menyeret-nyeret para filsuf tersebut dalam kubangan kebodohannya.

“haiaa,..kamu pintar ya”,..si-Chinese pun termakan oleh kebodohan tersebut karena kebodohannya sendiri. Ironis.

Kawan, Mie Putih fitrahnya terdiri dari pertemuan tepung beras, terigu, beberapa telur, si tepung Maizena, dan bahan lainnya. Pembuatnya pun bukan manusia sembarangan. Disini keikhlasan dan kesabaran sangat dibutuhkan, karena selain tepung beras yang sukar mengikat tapi juga kita harus berhasil menghasilkan mie putih yang lembut, selembut kulit bayi umur 3 bulan, dan ini tidak bisa dikerjakan dengan main-main. Tolong kau ingat itu. Salah langkah sedikit maka mie putihnya bisa-bisa tidak berwarna putih tetapi krem/putih usang seperti baju putih SD yang sudah tak digunakan selama 3 dasawarsa dan mienya juga bisa keras alot layaknya sandal jepit mushalla yang putus tak diperdulikan selama berbulan-bulan diterpa hujan panas. Hal ini suatu hal yang tak dapat dimaafkan begitu saja oleh pecinta kuliner diseluruh dunia. Aku pun tidak akan membelamu dihadapan mereka.

Mie putih dapat disajikan dalam berbagai ragam dan rupa. Mie putih Rebus, Campur, goreng, atau bisa juga dimakan mentah kalau kau maunya demikian. Dagingnya yang putih lembut meliuk-liuk, licin, kenyal-kenyal manja membuat lidahmu berdansa ala negeri Finlandia kampungnya Martii Ahtisari. Mungkin bermaksud agar manusia memiliki hati yang bersih, lembut penuh kasih sayang/manja, dan ceria.

Kuah bening yang disaji hangat dipadan dengan daging cincang yang khas, bawang goreng, seledri alias daun sup akan mampu memejamkan matamu dan membuat kau lupa ingatan sedang berada dimana dan merasa ingin menikahi para perawan Blangpidie. Kuah bening ini begitu sederhana, rendah hati, beribawa dan sangat asia, belum terpengaruhi oleh pemikiran-pemikiran bumbu dari barat yang fakir akan rasa. Kuahnya disajikan hangat, sebagai representatif hangatnya manusia-manusia disini. Perpaduan daging, bawang dan seledri faktanya malah menambah keliaran rasa dari Mie putih tersebut. Tak tanggung-tanggung, daging cincang beraroma harum ini justru menunjukkan bahwa mie putih memiliki pesona kemewahan. Bawang dan seledri mengangkat martabat pribumi yang kaya akan hasil rempah-rempah, mungkin arti dari perpaduan bumbu diatas ialah “rasa kemewahan yang membumi” atau barangkali “pribumi juga punya hak untuk hidup bermewah-mewahan”. Begitu anggun. Harmoni tak terperi kawan. Putihnya mie, hangat serta beningnya kuah, dan ragamnya bumbu yang menghiasinya seolah-olah mie tersebut ingin berbagi cerita kepada penikmatnya bahwa beginilah kehidupan, ia meliuk-meliuk, penuh aral rintangan, penuh warna tetapi harus tetap dijalani dengan berusaha memegang nilai-nilai agama dan luhur kehidupan agar kelak tak dihina Tuhan di Yaumil Masyhar. Begitu serius pesannya, bukan main.

Di Blangpidie ada beberapa lokasi dimana mie putih bersemayam. Di sepanjang jalan Persada, jalan Perdagangan, dan di pasar tradisional tadi. Kau bisa memilih lokasi-lokasi diatas sesuai dengan mood dan view yang kau inginkan. Untuk lokasi seputaran Jl. Persada maka kau akan mendapatkan sajian suasana khas Oriental, sangat Chinese, mungkin kau akan dibawa dengan suasana Beijing beberapa dekade silam ditambah view kesibukan jalan raya utama kota Blangpidie. Kau pun dapat melihat rupa-rupa yang mirip dengan Jackie Chan atau Steven Chow disini, tentunya jika kau melihat mereka dari jarak di atas 50 meter. Disini sambil kau menikmati makananmu juga akan dihibur dengan obrolan, gossip dan makian dalam berbahasa mandarin oleh para Tionghoa-man dan hamba-hambanya, seolah-olah kau sedang menonton drama Mandarin secara live. Bukan main. Di lokasi ini memang agak banyak dihuni oleh warga Tionghoa, meskipun terkadang kau akan mendapatkan mereka berbicara sangat fasih berbahasa aneuk Jamee dan aceh. “Agar tidak ditipu orang pribumi” alasan mereka dan mereka memang super pelit utk mengajarkan bahasa mereka ke pribumi, mungkin tujuannya agar bisa menipu dan menelikung pribumi-pribumi yang bodoh. Sebuah arogansi budaya terjadi disini.

Untuk lokasi di sepanjang Jl. Perdagangan dan seputaran Pasar, kau akan mendapati dan menikmati warung mie putih dengan suasana klasik dan jadul. Unik. Dengan desain interior warung-warung di Aceh pada umumnya yaitu berbalut cat dinding krem sehingga membuat ia sangat pesisir, kampungan, polos dan melenakan. Sudut-sudut ruangan yang berdebu dan beberapa pemukiman laba-laba yang ditinggalkan penghuninya malah menambah suasana ruangan semakin unpredictable. Seram-seram manja. Sangat romantis. Untuk hiasan dinding mereka masih belum mencopot poster Paramitha Rusady, Nicky Astria, Nike Ardilla dan Rano Karno berkumis ketika masih berumur 20-an. Tak ketinggalan poster ikang Fawzi senyum yang berpose macho, tangan dikepal diletakkan di dagu, berbalut baju rocker hitam mengkilat, bergelang duri hitam khas metal, rambut gondrong kering kembang karena memang pada saat itu rebonding untuk rambut belum ditemukan, dan tak lupa di atasnya tertulis IKANG FAWZI: DARAH MEMBARA. Sangat lelaki. Mungkin tak perlu aku gambarkan bagaimana populernya Ikang Fawzi dulu dengan suara serak-serak beseraknya, yang membuat perawan-perawan kampung menunda nikah karena berharap cemas dapat menikah dengan Ikang Fawzi suatu saat. Mereka sungguh tak menganggap para perjaka yang berkeliaran setiap sore di depan rumah-rumah mereka dengan stelan baju dan celana jeans ber merk FAvo asli. Entahlah, mngkin itu adalah kegilaan cinta. Sangat tak berotak.

Berbeda dengan warung milik tionghoa, warung mie putih pribumi memiliki nilai jual plus. Sejak pagi buta-merana, warung para pribumi ini sudah memutar habis volum radio dan mencari-cari sinyal yang khusus memutar lagu-lagu Aceh. Inilah yang tak akan kau dapatkan di warung-warung tionghoa tadi. Suara radio yang serak pecah berantakan karena volum maksimalnya dipaksaan, ditambah lagu-lagu daerah yang rajin memfotokopi lagu dari negeri kelahirannya Amitabachan dan Shahrukh Khan tetapi liriknya berbahasa Aceh dan juga tak lupa lagu kompilasi Nonstop disko Aceh akan memanjakan telingamu. Sangat kampungan. Tak ada bandingan. Aku peringatkan kau, saking kerasnya volum radio tersebut dan pecahnya suara speaker yang dihasilkannya membuat lagu-lagu melayu pun akan terdengar sangat metal dan keras meraung-raung seperti lagunya Edane, Sepultura atau X-japan. Kesamaan warung-warung mie putih baik yang milik pribumi maupun yang tionghoa adalah mie ini akan habis stok sebelum waktu Ashar, karena begitu populernya. maka aku tekankan jangan kau berlalai-melalai dengan waktu kalau kau tidak ingin kecewa.

Kawan, aku harapkan informasi diatas cukup membantumu untuk berniat mencicipi mie putih Blangpidie secara langsung, karena tak ada cabang di daerah lain dan sebenarnya rasa tak akan pernah bohong kata salahsatu iklan di televisi. Kawan, selamat menikmati.,… Visit En Enjoy Abdya 2010!

Corat-Coret Langit-Affif Herman

Kajhu, 04 Nov 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar