Rabu, 21 Januari 2015

Kumis



 
 Lalu sambil melihat cermin kubilang. Ke perempuanku yang lagi sibuk apa dia itu disana. Entah. Lupa-lupa ingat sayanya, kayaknya lagi lipatin baju yang baru diambilnya dari jemuran. Bukan dari jemuran tetangga, ya. 

“Abang mau pelihara kumis, gimana Beib, boleh?” kataku. Sebagai lelaki yang terbuka, agak demokratis, dan kayaknya berwawasan agak luas (jampok kuadrat) maka wajar dong jika setiap ada ide atau wacana baru maka ku lemparkan terlebih dulu ke forum. Sehingga dengan demikian akan ada masukan atau kritikan dari para audiens. Sehingga ide yang kutawarkan nantinya akan matang dan perfect. Juga agar kesan bahwa saya adalah suami yang otoriter gak terbukti di KPK nanti. Huehuehue.

“Heh? hehehe” 

Dia malah senyum-senyum sambil ketawa kecil mendengar hal tersebut. Melirik kepadaku sebentar. Lalu kembali meladeni baju-baju kering di tangannya. Mungkin dia kaget kenapa tiba-tiba ide super gak penting itu lahir, gitu. Atau mungkin juga gak kaget sih. Entahlah, hati perempuan kadang susah ditebak-tebak.

“Kan abang kerjanya sama orang-orang yang jauh lebih tua. Jadi ya biar agak imbang gitu. Biar mereka gak segan abang perintah-perintah. Hahaaa. cemmana jadi?” Kuberi argumen ilmiah padanya. 

“Hehee, abang mau pake kumis atau gak, sama aja. Tetap ganteng, kok.” Jawabnya singkat.

Alamaak! Melayang lah abang kalo gitu jawabannya, deeek oiii! Hehehee. Sayanya jadi ketawa-ketawa kayak apa gitu. Akhirnya gak jadi deh debat tentang kumis. Tapi itulah kenapa saya ini sekarang menjalankan budidaya sejumput kumis dibawah hidung. Maksudnya, begitulah sejarah gak pentingnya. Huehueheu.


Bandung, 21/01/15
Sedang mengingat-ngingat momen2 kecil kita. Biar apa gitu? Iya, biar rindu. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar